Senin, 12 Desember 2011

KAJIAN DRAMA

Analisis Drama “Ningrat”
dengan Menggunakan Pendekatan Struktural Genetik
BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
    Karya sastra adalah sebuah struktur yang sangat kompleks (Hill dalam Pradopo, 2007: 108). Dalam hubungannya dengan kehidupan, sastra adalah ekspresi kehidupan manusia yang tidak lepas dari akar masyarakatnya. Kendati demikian, sastra tetap diakui sebagai sebuah ilusi atau khayalan dari kenyataan. Sastra tidak akan semata-mata menyodorkan fakta secara mentah. Sastra bukan sekedar tiruan kenyataan melainkan kenyataan yang telah ditafsirkan. Kenyataan tersebut bukan berupa jiplakan yang kasar, melainkan sebuah refleksi halus dan estetis.
   
Keberadaan karya sastra di tengah-tengah masyarakat adalah hasil imajinasi pengarang serta refleksinya terhadap gejala-gejala sosial di sekitarnya. Oleh karena itu, kehadiran karya sastra merupakan bagian dari kehidupan masyarakat. Pengarang sebagai subjek individual mencoba menghasilkan pandangan dunianya (world vision) kepada subjek kolektifnya. Signifikasi yang dielaborasikan subjek individual terhadap realitas sosial di sekitarnya menunjukkan bahwa sastra berakar pada kultur dan masyarakat tertentu. Keberadaan sastra yang demikian mengukuhkan sastra sebagai dokumentasi sosiobudaya (Iswanto, 2001: 61).

Pernyataan di atas berimplikasi bahwa sastra sesungguhnya adalah lembaga sosial yang menyuarakan pandangan dunia pengarangnya. Pandangan ini bukan semata-mata fakta empiris yang bersifat langsung, tetapi merupakan suatu gagasan aspirasi, dan perasaan yang dapat mempersatukan kelompok sosial masyarakat.
    Merumuskan pengertian sastra secara sempurna tidak semudah merumuskan pengertian pada ilmu eksakta,namun demikian untuk mempelajari suatu cabang ilmu pengetahuan secara teliti orang selalu berusaha menemukan defenisi guna mengetahui pembatasan tentang permasalahan ilmu yang bersangkutan.
    Sastra menurut Panuti Sudjiman (1990:7)mengemukakan bahwa sastra adalah karangan lisan atau tuntutan yang memiliki keunggulan  atau keorisinilan,keindahan dalam isi dan ungkapannya.Lebih lanjut Panuti Sudjiman mengemukakan bahwa karya sastra rakyat adalah kategori yang mencakup lagu rakyat,balada,dongeng,ketoprak,peribahasa,teka-teki,legenda,dan banyak kondisi lainnya.
    Menurut Brooks (Tarigan,1984:120) bahwa sastra adalah istilah yang digunakan untuk membedakan uraian yang tidak bersifat historis.
Karya sastra merupakan seni yang menggunakan bahasa sebagai medianya.Pada umumnya mengandung unsur keindahan yang menimbulkan rasa senang,menarik perhatian,dan menyegarkan perasaan bagi penikmatnya.Menurut Horace,hakikat dan fungsi karya sastra adalah menyenangkan dan berguna.Kedua hal tersebut mempunyai kaitan arti yang kuat dan menimbulkan suatu pengertian .Oleh karena itu hakikat dan fungsi karya sastra tersebut menjadi hasil kebudayaan yang pantas mendapat perhatian.
    Kedudukan dan manfaat karya sastra bagi seorang pencipta karya sastra tidak hanya ingin mengapresiasikan pengalaman jiwanya saja,tetapi lebih dari itu.Pengarang bermaksud mempengaruhi pembaca agar ikut memahami dan menghayati ide yang dituangkan dalam karya sastra tersebut.
Penulis sastra bukanlah seseorang yang sekedar menulis bahasa.Penulis sastra membuat sebuah dunia kehidupan dengan menggunakan bahasa pilihan.Bagi penulis sastra itu merupakan sebuah dunia kehidupan yang ingin memahami kehidupan dengan membangun sebuah model dan menjelaskan berbagai kemungkinan dalam kehidupan berdasarkan model tersebut.Untuk menjelaskan berbagai kemungkinan dalam kehidupan,penulis memilih bahasa yang dipandang tepat dan secara estetis relevan dengan proses penjelasannya.Maka dunia rekaan yang ditawarkan oleh penulis adalah dunia alternatif sehingga dengan demikian dunia tersebut bukanlah dunia yang sesungguhnya.
Berdasarkan hal di atas,salah satu ciri karya sastra adalah bersifat imajinatif yaitu menimbulkan citra atau bayangan tertentu di dalam lingkungan peminatnya sehingga mampu membangkitkan perasaan senang,sedih,marah,benci,dan dendam.Perasaan itu muncul bukan oleh perasaan atau pertentangan nasib melainkan karena pengaruh teknik penceritaan penulis.
Pada umumnya karya sastra membicarakan manusia dengan bermacam-macam aspek kehidupannya.Dengan demikian karya sastra menjadi sarana yang amat penting untuk mengenal secara sempurna terhadap manusia dan zamannya.
    Suatu karya sastra tercipta tidak dalam kekosongan sosial budaya, artinya, pengarang tidak dengan tiba-tiba mendapat berkah misterius, kemudian dengan elegannya mencipta suatu karya sastra. Suatu karya sastra tercipta lebih merupakan hasil pengalaman, pemikiran, refleksi, dan rekaman budaya pengarang terhadap sesuatu hal yang terjadi dalam dirinya sendiri, dan masyarakat.
Karya sastra juga merupakan suatu kerucutisasi subjektif pengarang dalam memberikan suatu ide, pemikiran, pesan, dan gagasan terhadap suatu hal. Dalam hal ini karya sastra yang tercipta tersebut tidak hanya semata-mata ciptaan suatu individu an sich dari pengarang, tetapi ciptaan dari apa yang disebut Lucien
Goldmann struktur mental trans individual dari sebuah kelompok sosial—ide-ide, nilai-nilai, dan cita-cita yang diyakini dan dihidupi kelompok sosial tertentu, yang sesuai dengan pemikiran sang pengarang (Eagleton, 2002:58).
    Drama yan dalam hal ini menyangkut masalah sosial, budaya, politik, dan agama dari pengarang yang dikemas dengan artistik dan metaforis. Pesan-pesan dan pandangan dunia yang bagaimana yang dibawakan pengarang dalam roman tersebut, sehingga menentukan juga identitas subjek kolektif pandangan dunia tersebut.
Drama yang berjudul “Ningrat” karya La Ode Sadia merupakan salah satu drama yang menarik untuk diteliti dengan pendekatan struktural genetik. Ada hal menarik yang membuat La Ode Sadia menganalisis drama ini dengan melihat sisi kebudayaan yang atau adat istiadat yang berlaku di suatu masyarakat dengan berdasarkan pada fakta-fakta yang berada dalam kehidupan masyarakat yaitu berupa fakta individual, fakta kemanusiaan, strukturasi, dan pandangan dunia.
B.Permasalahan
Pada setiap penyusunan makalah terdapat permasalahan yang menjadi dasar dari pembuatan makalah tersebut. Pembatasan masalah dilakukan agar masalah yang akan diteliti tidak meluas, sehingga penelitian ini terfokus dan tepat sasaran. Maka,berrdasarkan latar belakakang yang telah dikemukakan maka yang menjadi permasalahan dalam hal ini yaitu:
1. Bagaimana fakta individual yang terkandung di dalam novel “Ningrat” karya LaOde Sadia?
2. Bagaimana fakta kemanusiaan yang terkandung di dalam novel “Ningrat” karya LaOde Sadia?
3. Bagaimana strukturasi yang terkandung di dalam novel “Ningrat” karya LaOde Sadia?
4. Bagaimana  pandangan dunia yang terkandung di dalam novel “Ningrat” karya LaOde Sadia?

C.Tujuan
    Berdasarkan permasalahan yang telah dikemukakan maka yang menjadi tujuan dari dari penyusunan makalah ini yaitu:
1. Untuk mengetahui fakta individual yang terkandung di dalam novel “Ningrat” karya LaOde Sadia?
2. Untuk mengetahui fakta kemanusiaan yang terkandung di dalam novel “Ningrat” karya LaOde Sadia?
3. Untuk mengetahui strukturasi yang terkandung di dalam novel “Ningrat” karya LaOde Sadia?
4. Untuk mengetahui pandangan dunia yang terkandung di dalam novel “Ningrat” karya LaOde Sadia?
D.Manfaat
    Penulisan makalah ini diharapkan dapat bermanfaat untuk:
1.Membantu para pembaca naskah drama dalam memahami dan menafsirkan isi dari drama “Ningrat” karya La Ode Sadia.
2.Sumbangan pemikiran terhadap pengajaran karya sastra khususnya drama serta membantu perkembangan penggunaan teori sastra khususnya dalam teori struktural genetik dalam penggunaannya di dalam menganalisis suatu karya sastra. Makalah ini dapat digunakan untuk menambah khasanah literatur pengajaran sastra.Dengan penerapan analisis drama ini dimaksudkan sebagai upaya untuk lebih memperdalam terhadap teks drama tersebut.
3. Memperkaya wawasan peneliti pada khususnya, dan pembaca pada umumnya tentang seluk-beluk sebuah karya sastra ditinjau dari strukturalisme genetiknya.

BAB II
LANDASAN TEORI
1. Pengertian Drama dan Unsur Pembangunnya
    Objek sastra adalah manusia dan kehidupannya sehingga unsur-unsur intrinsik yang ditonjolkan oleh pengarang juga berbeda-beda sesuai dengan zaman karya sastra itu ditulis.Perbedaan dan pergeseran zaman suatu kehidupan masyarakat menyebabkan permasalahan yang ditonjolkan berbeda pula.
Perkembangan zaman akan mempengaruhi perkembangan suatu karya sastra seperti halnya drama sebagai salah satu bagian dari karya sastra,akan memberikan sesuatu yang berharga kepada penikmatnya sebab drama bukan saja membicarakan satu segi kehidupan tetapi juga membicarakan berbagai segi kehidupan dengan segala aspeknya.
Drama adalah cerita konflik manusia dalam bentuk dialog yang diproyeksikan pada pentas dengan menggunakan percakapan dan action di hadapan penonton (audience).Semi (1993:156)mengatakan drama sebagai certa atau perilaku manusia yang dipentaskan.Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Mulyono,1997:243) mengartikan drama sebagai komposisi syair atau prosa yang menggambarkan kehidupan dan watak kmelalui tingkah laku atau dialog yang dipentaskan.
Drama dapat dirumuskan sebagai seni sastra yang menyajikan alur cerita.Di dalamnya terdapat berbagai nsur seni tari,tetapi juga terdapat seni sastra atau prosa.Karena merupakan perpaduan dari berbagai cabang seni (seni sastra,seni tari,seni musik,seni lukis,dan sebagainya) drama disebut sebagai seni campur atau seni kolektif (Rahmanto,1997/1998:74).
Berdasarkan teori yang dikemukakan di atas,dapat disimpulkan bahwa drama merupakan imitasi kehidupan yang digambarkan dalam perwatakan pelaku dan merupakan suatu upaya relatif pengarang sebagai hasil interpretasi terhadap kehidupan nyataatau kehidupan yang ada dalam imajinasi pengarang yang diwujudkan baik dalam bentuk naskah atau dipentaskan.
Berdasarkan bentuknya,dikenal drama tragedi dan drama komedi.Dua jenis drama ini merupakan pokok dalam kelompok drama.Drama tragedi disebut juga drama duka yaitu drama yang menyebabkan para penonton merasa belas dan ngeri sehingga mereka mengalami pencucian jiwa atau katarsis setelah mengalami ketegangan dan pertikaian batin akibat suatu lakuan dramatis.
Berdasarkan kedua pokok drama itu kita dapat mengamati jenis-jenis drama seperti tragedi komedi atau drama duka ria (drama dengan alur yang sebenarnya lebih cocok untuk drama duka tetapi berakhir dengan kebahagiaan) dan melodrama (drama yang mengupas suka duka kehidupan dengan cara menimbulkan rasa haru pada penonton,tetapi tidak sedalam tragedi dan tidak sampai menimbulkan katarsis).
Drama heroik merupakan perwujudan bentuk tragedi dan selalu bertemakan cinta dan nama baik.Banyolan adalah drama ringan yang alurnya tersusun berdasarkan liku-liku situasi dan tidak berdasarkan perkembangan tokoh,biasanya  berisikan lakuan dan cakapan yang kocak dan kasar.Komedi stambul merupakan komedi yang berbahasa Melayu yang menceritakan hikayat 1001 malam.i pantomim.Drama yang lazim dikenal adalah drama kata yaitu drama yang banyak menggunakan kata.Drama mini kata merupakan bentuk drama pantomim relatif yang hampir tidak menggunakan cakapan.Penciptaan alur lakon ditimbulkan melalui suara dan improvisasi gerak yang teatrikal,Drama pantomim adalah drama bisu,pertunjukkan drama dengan sama sekali tidak menggunakan pengucapan kata hanya menggunakan sikap dan gerak serta biasanya diiring musik.Drama pantomim ini kiranya bukan tergolong ke dalam sastra drama.
Dari segi kuantitas cakupannya terdapat drama kata,drama mini kata,drama pantomim.Drama yang sering dikenal adalah drama kata yaitu drama yang banyak menggunakan banyak kata.Drama mini kata merupakan bentuk drama pantomim relatif yang hampir tidak menggunakan cakapan.Penciptaan alur lakon ditimbulkan melalui suara dan improvisasi gerak yang teatrikal.Drama pantomim adalah drama bisu yaitu pertunjukkan drama dengan sama sekali tidak menggunakan pengucapan kata hanya menggunakan sikap dan gerakan serta biasanya diiringi musik.Drama pantomim ini kiranya bukan tergolong ke dalam sastra drama.
Dari aspek jumlah pelaku,terbagi atas drama dialog dan drama monolog.Drama dialog paling lazim dan umunya dipertunjukkan.Drama monolog adalah drama yang dimainkan atau dirancang untuk dimainkan oleh seorang pemain.
Berdasarkan media pementasan dikenal dengan drama radio (rekaman radio) atau drama televisi (rekaman radio dan sinetron film) dan drama pentas (panggung).Selain itu ada juga drama yang lebih mementingkan gaya sastranya daripada nilai dramatiknya.Drama ini disebut dengan drama baca yang hanya cocok untuk dibaca tidak untuk dipentaskan.
Dari segi penonjolan unsur seninya,terdapat drama tablo,opera,dan sendra tari atau drama tari.Jenis-jenis ini meskipun jarang dapat juga ditemukan dalam kegiatan seni masyarakat kita.Drama tablo merupakan bentuk pementasan drama yang komposisi pemainnya terdiri atas beberapa pemain yang tidak bergerak,tidak bersuara untuk memperoleh efek khusus.Narator biasanya diikutkan untuk memberi prolog atau keterangan cerita.
Opera adalah bentuk drama yang sebagian atau seluruhnya dinyanyikan (menonjolkan suara),biasanya dilengkapi dengan kelompok pemusik atau pengiringnya.Jenis opera yang ringan atau kecil disebut operet.Sendra tari atau drama tari adalah jenis drama yang menonjolkan seni tari,iringan musik,dan narator berperan penting dalam jenis drama ini.
Berdasarkan orisinalitas atau keaslian penciptanya terdapat drama asli (karangan si pengarang sendiri) dan drama terjemahan (salinan dari bahasa lain atau pengarang yang lain).Ada juga bentuk pendramaan atau dramatisasinya dalam berbahasa Indonesia ragam umum drama berbahasa Indonesia ragam dialek.Kebanyakan drama Indonesia menggunakan ragam yaitu proses pelakonan suatu peristiwa atau cerita sebagai drama.Dari segi kuantitas waktu pementasannya kita mengenal drama pendek dan drama panjang.Drama-drama yang terkenal biasanya berupa drama panjang terdiri dari tiga atau lima babak,mengandung cerita yang panjang,karakter yang beragam, danjumlah seting yang beragam pula.Drama pendek hanya terdiri dari satu babak saja sehingga sering disebut drama satu babak.Drama jenis ini menuntut pemusatan pada suatu tema,jumlah kecil pemeran,dan peringkasan dalam gaya,latar,dan pengaluran.Berdasarkan sikap  terhadap naskah,kita mengenal drama tradisional dan drama modern.Pementasan drama modern bertolak dari naskah pementasan drama tradisional bersifat improvisasi.Bentukm drama tradisional mengikut adat kebiasaan turun-temurun dan tidak mengikuti kepribadian seniman pencipta tertentu.Kepribadian seniman tradisional muncul dalam mutu permainan,bukan dalam ciptaan perubahan bentuk drama.
Berdasarkan tujuan penulis,terdapat banyak jenis drama antara lain sosio drama,psikodrama dan drama satir.Sosio drama adalah jenis drama yang bertujuan memberiakan informasi kepada masyarakat tentang berbagai masalah sosial politik.Psikodrama adalah jenis drama yang bertujuan sebagai metode penyembuhan penyakit jiwa.Drama satir adalah jenis drama yang bertujuan memberikan sindiran umumnya bersifat komedi.
Berdasarkan aliran seni terdapat drama absurd yaitu drama yang sengaja mengabaikan mengabaikan konversi mengenai alur,penokohan,tema,dan sebagainya.
    Banyaknya karya-karya yang dihadirkan pada masa-masa sekarang telah melahirkan tokoh-tokoh yang mengkaji karya-karya sastra yang diciptakan khususnya drama.Mereka ingin mengkaji dan mengetahui makna yang terkandung di dalam karya tersebut.Karena di dalam karya sastra tersebut diantaranya drama mendeskripsikan tentang berbagai segi aspek kehidupan manusia.
    Dapat dikatakan bahwa drama adalah salah satu jenis karya sastra yang dilakoni oleh dua orang atau lebih yang dipentaskan di atas panggung.Sebuah drama terdiri dari beberapa unsur internal pembangunnya. Unsurunsur tersebut adalah penokohan, latar, alur, tema dan amanat.
a. Penokohan
Penokohan adalah pelukisan gambaran yang jelas tentang sesorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita (Jones dalam Burhan Nurgiyantoro, 2002:165).
Penokohan atau tokoh juga dijelaskan oleh Dick Hartoko & Rahmanto sebagai pencitraan yang disusun dengan memperpadukan berbagai faktor, yakni apa yang difokalisasinya, bagaimana ia memfokalisasi, oleh siapa dan bagaimana ia sendiri difokalisasi, kelakuannya sebagai pelaku dalam deretan peristiwa, ruang dan waktu (suasana) serta pertentangan tematis di dalam karya itu yang secara tidak langsung merupakan bingkai acuan bagi tokoh (Dick Hartoko&Rahmanto,
1986:144).
Tokoh-tokoh cerita dalam sebuah cerita fiksi dapat dibedakan ke dalam beberapa jenis penamaan berdasarkan dari sudut mana penamaan itu dilakukan.
Mochtar Lubis (1981:17) berpendapat bahwa cara–cara dalam mengamati tokoh dan melakukan penokohan sebagai berikut.
1. “Phisical description” (melukiskan bentuk lahir pelaku).
2. “Potrayal of thought stream or of conscious thought” (melukiskan jalan pikiran pelaku-pelaku atau apa yang melintas dalam pikirannya. Dengan ini pembaca dapat mengetahui bagaimana watak pelaku itu).
3. “Reaction to event” (bagaimana reaksi pelaku itu terhadap kejadian).
4. “Direct author analysis” (pengarang dengan langsung menganalisis watak pelaku).
5. “Discussion of environment” (melukiskan keadaan sekitar pelaku.
Misalnya melukiskan keadaan kamar pelaku, pembaca akan mendapat kesan apakah pelaku itu jorok, bersih, rajin atau malas).
6. “Reaction of other about character” (bagaimana pandangan pelaku-pelaku lain terhadap pelaku utama).
7. “Conversation of other about character” (pelaku-pelaku lainnya dalam suatu cerita memperbincangkan keadaan pelaku terutama. Dengan tidak langsung pembaca dapat kesan tentang segala sesuatu mengenai pelaku terutama ini).
Sudiro Satoto berpendapat bahwa analisis penokohan dapat ditinjau dari beberapa dimensi yaitu, fisiologis, sosiologis dan psikologis. Dimensi fisioligis, yaitu ciri-ciri lahir misalnya usia (tingkat kedewasaan), jenis kelamin, keadaan tubuh, ciri-ciri muka, ciri-ciri badani, dan lain-lain.
Dimensi sosiologis, yaitu ciri-ciri kehidupan masyarakat misalnya status sosial, pekerjaan, jabatan, peranannya dalam masyarakat, tingkat pendidikan, kehidupan pribadi, pandangan hidup, agama, kepercayaan, ideologi, aktifitas sosial, organisasi, hobi, bangsa, suku, keturunan, dan
lain-lain.
Dimensi psikologis, yaitu latar belakang kejiwaan tokoh misalnya mentalitas, moral, temperamen, keinginan dan perasaan pribadi, sikap dan perilaku, tingkat kecerdasan, keahlian khusus dalam bidang tertentu (Sudiro Satoto, 1992:44-5).
Secara umum penokohan adalah gambaran tokoh berupa karakter, pemikiran, citra fisik, dan ciri-ciri lain yang terdapat dalam sebuah cerita fiksi.
b. Latar
Latar atau setting adalah segala keterangan, petunjuk, pengacuan yang berkaitan dengan waktu, ruang, dan suasana terjadinya peristiwa dalam suatu karya sastra (Panuti Sudjiman, 1988:44).
Unsur latar dibedakan dalam beberapa indikator. Abrams (dalam Zainudin Fananie, 2002:99) berpendapat, latar dibedakan menurut tiga indikator yang meliputi; pertama, general locale (tempat secara umum); kedua historical time (waktu historis); ketiga social circumstances (lingkungan sosial).
Senada dengan Abrams, Burhan Nurgiyantoro (2002:227) juga membedakan latar menjadi tiga kategori :
a. Latar tempat, yaitu menyaran pada lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi.
b. Latar waktu, yaitu berhubungan dengan masalah kapan terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi.
c. Latar sosial, yaitu menyaran pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku kehidupan sosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi.
Fungsi setting/latar menurut Rene Wellek dan Austin Warren adalah sebagai berikut
1. Latar adalah lingkungan, dan lingkungan terutama interior rumah dapat dianggap berfungsi sebagai metonimia, atau metafora, ekspresi dari tokohnya. Rumah seseorang adalah perhiasan bagi dirinya sendiri. Kalau kita menggambarkan rumahnya berarti kita menggambarkan
sang tokoh. Latar memberikan informasi situasi (ruang dan tempat) sebagaimana adanya dan berfungsi sebagai proyeksi keadaan batin para tokoh, latar menjadi metafor dari keadaan emosional dan spiritual tokoh.
2. Latar yang bertujuan menciptakan dan mempertahankan mood: alur dan penokohan didominasi oleh nada dan kesan tertentu disebut latar romantik, misalnya pada karya romantik. Deskripsi naturalistik lebih bersifat dokumentasi, dengan tujuan menciptakan ilusi.
3. Dalam drama, latar digambarkan secara verbal (seperti dalam drama Shakespeare)atau ditunjukkan oleh petunjuk pementasan yang menyangkut dekorasi dan peralatan panggung disebut latar realistis.
4. Latar juga dapat berfungsi sebagai penentu pokok: lingkungan dianggap sebagai penyebab fisik dan sosial, suatu kekuatan yang tidak dapat dikontrol oleh individu (Wellek, Rene dan Warren, Austin, 1989:290-1).
Latar tidak hanya menunjukkan dimana dan kapan cerita itu terjadi. Lebih dari itu, latar juga harus sesuai dengan situasi sosial dan diagesis atau logika ceritanya. Hal ini diungkapkan oleh Zainuddin Fananie dalam bukunya Telaah Sastra. Zainuddin Fananie, (2002:99) berpendapat bahwa dalam telaah setting/latar sebuah karya sastra, bukan berarti bahwa persoalan yang dilihat hanya sekedar tempat terjadinya peristiwa, saat terjadinya peristiwa, dan situasi sosialnya, melainkan juga dari konteks diagesis-nya kaitannya dengan perilaku masyarakat dan watak para tokohnya sesuai dengan situasi pada saat karya tersebut diciptakan. Karena itu, dari telaah yang dilakukan harus diketahui sejauh mana kewajaran, logika peristiwa, perkembangan karakter pelaku sesuai dengan pandangan masyarakat yang berlaku saat itu.
c. Alur
Alur sering juga disebut plot. Dalam pengertiannya yang paling umum, plot atau alur sering diartikan sebagai keseluruhan rangkaian peristiwa yang terdapat dalam cerita (Sundari dalam Zainuddin Fananie, 2002:93). Luxemburg berpendapat bahwa alur atau plot adalah konstruksi yang dibuat pembaca mengenai sebuah deretan peristiwa yang secara logis dan kronologis saling berkaitan dan diakibatkan atau dialami oleh para pelaku (Luxemburg dalam Zainuddin Fananie, 2002:93).
Teknik pengaluran menurut Sudiro Satoto (1992: 27-28) ada dua yaitu, dengan jalan progresif (alur maju) yaitu dari tahap awal, tahap tengah atau puncak, dan tahap akhir terjadinya peristiwa, yang kedua dengan jalan regresif (alur mundur) yaitu bertolak dari akhir cerita, menuju tahap tengah atu puncak, dan berakhir pada tahap awal. Tahap progresif bersifat linear, sedangkan teknik regresif bersifat non linear.
Ada juga teknik pengaluran yang disebut sorot balik (flashback), yaitu urutan tahapannya dibalik seperti halnya regresif. Teknik flashback jelas mengubah teknik pengaluran dari progresif ke regresif. “Teknik tarik balik (back tracking), jenis pengalurannya tetap progresif, hanya pada tahap-tahap tertentu, peristiwanya ditarik ke belakang, jadi yang ditarik ke belakang hanya peristiwanya (mengenang peristiwa yang lalu), tetapi alurnya tetap maju atau progresif” (Sudiro Satoto, 1992:28-29).
Burhan Nurgiyantoro berpendapat unsur yang amat esensial dalam pengembangan sebuah alur adalah peristiwa, konflik, dan klimaks (Burhan Nurgiyantoro, 2002:16).
a. Peristiwa
Peristiwa dapat diartikan sebagai peralihan dari suatu keadaan ke keadaan yang lain (Luxemburg, 1992:160). Peristiwa dapat dibedakan dalam tiga jenis, yaitu: peristiwa fungsional, peristiwa kaitan, peristiwa acuan. Peristiwa fungsional adalah peristiwa-peristiwa yang menentukan dan atau mempengaruhi perkembangan alur. Peristiwa kaitan adalah peristiwa-peristiwa yang berfungsi mengaitkan peristiwa-peristiwa penting dalam mengurutkan penyajian cerita.
Peristiwa acuan adalah peristiwa yang tidak secara langsung berpengaruh dan atau berhubungan dengan perkembangan alur, melainkan mengacu pada unsur-unsur lain (Burhan Nurgiyantoro, 2002:117).
b. Konflik
Kemampuan pengarang untuk memilih dan membangun konflik melalui berbagai peristiwa (baik perbuatan maupun kejadian) akan sangat menentukan kadar kemenarikan, kadar suspense, cerita yang dihasilkan (Burhan Nurgiyantoro, 2002:122).
“Konflik menyaran pada pengertian sesuatu yang bersifat tidak menyenangkan yang terjadi dan atau dialami oleh tokoh(-tokoh) cerita, yang jika tokoh(-tokoh) itu mempunyai kebebasan untuk memilih, ia (mereka) tidak akan memilih peristiwa itu menimpa dirinya” (Meredith&Fitzgerald dalam BurhanNurgiyantoro, 2002:122).
c. Klimaks
Klimaks menurut Stanton adalah saat konflik telah mencapai tingkat intensitas tertinggi, dan saat (hal) itu merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari kejadiannya. Secara ekstrem barangkali, boleh dikatakan bahwa dalam klimaks “nasib” (dalam pengertian luas) tokoh utama cerita akan ditentukan (Stanton dalam Burhan Nurgiyantoro, 2002:127).
Dalam usaha pengembangan alur, pengarang juga memiliki kebebasan kreativitas. Namun, dalam karya fiksi yang tergolong inkonvensional, kebebasan itu bukannya tanpa aturan. Ada semacam aturan, ketentuan, atau kaidah pengembangan alur yang perlu dipertimbangkan. Burhan Nurgiyantoro (2002: 130-138) berpendapat bahwa kaidah pengaluran (the law of the plot) adalah sebagai berikut.
a. Plausibilitas (plausibility) menyaran pada pengertian suatu hal yang dapat dipercaya sesuai dengan logika cerita.
b. Keingintahuan (suspence), mampu membangkitkan rasa ingin tahu dihati pembaca. Pembayangan (foreshadowing) adalah salah satu cara untuk membangkitkan suspense sebuah cerita. Pembayangan, dapat dipandang sebagai sebuah pertanda akan terjadinya peristiwa atau konflik yang lebih besar atau lebih serius.
c. Kejutan (surprise), merupakan cerita yang mampu memberikan kejutan, sesuatu yang bersifat mengejutkan .
d. Kesatupaduan (unity) menyaran pada pengertian bahwa berbagai unsur yang ditampilkan, khususnya peristiwa-peristiwa fungsional, kaitan, dan acuan, yang mengandung konflik, atau seluruh pengalaman kehidupan yang hendak dikomunikasikan, memilki keterkaitan satu dengan yang lain.
Burhan Nurgiyantoro (2002:150) juga berpendapat, pembedaan alur berdasarkan kriteria urutan waktu secara teoritis dibagi kedalam tiga kategori yaitu:
a. Alur kronologis, disebut sebagai alur lurus, maju, progresif. Kronologis jika peristiwa-peristiwa yang dikisahkan bersifat kronologis, peristiwa(-peristiwa) yang pertama diikuti oleh (atau:menyebabkan terjadinya) peristiwa-peristiwa yang kemudian.
b. Alur tak kronologis, disebut sebagai alur sorot balik, mundur, flash back. Cerita dimulai mungkin dari tahap tengah atau bahkan tahap akhir, baru kemudian tahap awal cerita dikisahkan.
c. Alur campuran, campuran dari keduanya.
d. Tema dan Amanat
Zainuddin Fananie berpendapat bahwa tema adalah ide, gagasan, pandangan hidup pengarang yang melatarbelakangi ciptaan karya sastra (Zainuddin Fananie, 2002:84). Pendapat lain mengatakan, bahwa tema adalah gagasan dasar umum yang menopang sebuah karya sastra dan yang terkandung di dalam teks sebagai struktur semantis dan yang menyangkut persamaan-persamaan dan perbedaan-perbedaan (Dick Hartoko&Rahmanto, 1986:142).
Senada dengan dua pendapat di atas, Burhan Nurgiyantoro juga mengatakan bahwa tema adalah dasar cerita, gagasan dasar umum, sebuah karya novel/roman. Gagasan dasar umum inilah yang tentunya telah ditentukan sebelumnya oleh pengarang yang dipergunakan untuk mengembangkan cerita.
Dengan kata lain, cerita tentunya akan setia mengikuti gagasan dasar umum yang telah ditetapkan sebelumnya sehingga berbagai peristiwa-konflik dan pemilihan berbagai unsur intrinsik yang lain dapat mencerminkan gagasan dasar umum (baca:tema) tersebut (Burhan Nurgiyantoro, 2002:70).
Amanat adalah “gagasan yang mendasari karya sastra, pesan yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca atau pendengar. Di dalam karya sastra modern, amanat ini biasanya tersirat dan di dalam karya sastra lama pada umumnya tersurat”(Panuti Sudjiman, 1984:5).
Tema dan amanat sangat erat kaitannya. Amanat merupakan pemecahan persoalan yang terkandung dalam tema. Amanat juga merupakan pesan yang ingin disampaikan pengarang dalam rangka menyelesaikan persoalan yang ada.
2. Teori Struturalisme Genetik
Pencetus pendekatan strukuralime genetik adalah Lucien Goldmann, seorang ahli sastra Prancis. Pendekatan ini merupakan satu-satunya pendekatan yang mampu merekonstruksikan pandangan dunia pengarang. Bukan seperti pendekatan Marxisme yang cenderung positivistik dan mengabaikan kelitereran sebuah karya sastra. Goldmann tetap berpijak pada strukturalisme karena ia menggunakan prinsip struktural yang dinafikan oleh pendekatan marxisme, hanya saja, kelemahan pendekatan strukturalisme diperbaiki dengan memasukkan factor genetik di dalam memahami karya sastra (Rachmat Djoko Pradopo. et al, 2001:60). Pendekatan ini mengoreksi pendekatan strukturalisme otonom dengan memasukkan faktor genetik dalam memahami karya sastra. Genetik diartikan sebagai asal-usul karya sastra yang meliputi pengarang dan realita sejarah yang turut mendukung penciptaan karya sastra tersebut.
    Strukturalisme genetik adalah sebuah pendekatan di dalam penelitian sastra yang lahir sebagai reaksi pendekatan strukturalisme murni yang anti historis dan kausal. Pendekatan strukturalisme juga dinamakan sebagai pendekatan objektif. Menyikapi yang demikian, Iswanto pernah mengutip pendapat Juhl (2001: 62) penafsiran terhadap karya sastra yang menafikan pengarang sebagai pemberi makna sangat berbahaya pemberian makna, karena penafsiran tersebut akan mengorbankan ciri khas , kepribadian, cita-cita dan juga norma-norma yang dianut oleh pengarang. Secara gradual dapat dikatakan bahwa jika penafsiran itu menghilangkan pengarang dengan segala eksistensinya di dalam jajaran signifikan penafsiran. Objektifitas penafsiran sebuah karya sastra akan diragukan lagi karena memberi kemungkinan lebih besar terhadap campur tangan pembaca di dalam penafsiran karya sastra.
atar belakang sejarah, zaman, dan sosial masyarakat memiliki andil yang signifikan terhadap karya sastra baik dalam segi isi maupun bentuk. Keberadaan pengarang dalam lingkungan sosial masyarakat tertentu, ikut mempengaruhi karya yang dibuatnya. Dengan demikian suatu masyarakat tertentu yang ditempati pengarang akang dengan sendirinya mempengaruhi jenis sastra tertentu yang dihasilkan pengarang.
Kecenderunga ini didasarkan pada pendapat bahwa tata kemasyarakatan bersifat normatif. Hal ini berarti terdapat paksaan bagi masyarakat mematuhi nilai-nilai yang berada di masyarakat. Hal ini merupakan faktor yang harus ikut diperhatikan dan menentukan terhadap jenis tulisan pengarang, objek karya sastra, pasar karya sastra, maksud penulisan, dan tujuan penulisan.
Secara sederhana pendekatan strukturalisme genetik diformulasikan sebagai berikut. Pertama difokuskan pada kajian intrinsik karya sastra, baik secara parsial maupun secara keseluruhan. Kedua, mengkaji latar belakang kehidupan sosial kelompok pengarang, karena ia adalah suatu bagian dari komunitas tertentu. Ketiga, mengkaji latar belakang sosial dan sejarah yang ikut mengondisikan terciptanya karya sastra. Dari ketiga cara tersebut akan diperoleh abstraksi pandangan dunia pengarang yang diperjuangkan oleh tokoh problematik.
Goldmann menyebut metode kritik sastranya strukturalisme genetik. Ia memakai istilah strukturalisme karena lebih tertarik pada struktur kategori yang ada dalam suatu dunia visi, dan kurang tertarik pada isinya. Jadi, dua penulis yang jelas-jelas berbeda sangat mungkin berasal dari struktur mental kolektif yang sama. Genetik, karena ia sangat tertarik untuk memahami bagaimana struktur mental tersebut diproduksi secara historis. Dengan kata lain, Goldmann
memusatkan perhatian pada hubungan antara suatu visi dunia dengan kondisikondisi
historis yang memunculkannya (Eagleton, 2002:58-59).
Untuk menopang teorinya tersebut Goldmann membangun seperangkat kategori yang saling bertalian satu sama lain sehingga membentuk apa yang disebut sebagai strukturalisme genetik di atas. Kategori-kategori itu adalah fakta kemanusiaan, subjek kolektif, strukturasi, pandangan dunia, pemahaman dan penjelasan (Faruk, 1999:12).
a. Subjek Transindividual
Meskipun istilah transindividual diadopsi oleh Goldmann dari khazanah intelektual Marxis, khususnya Lukacs, Goldmann tidak menggunakan istilah kesadaran kolektif dengan pertimbangan istilah ini seolah-olah menonjolkan pikiran-pikiran kelompok. Sebaliknya, Konsep transindividual menurut Goldmann, menampilkan pikiran-pikiran individu tetapi dengan struktur mental kelompok.
Menurut Faruk, subjek transindividual adalah subjek yang mengatasi individu, yang di dalamnya individu hanya merupakan  bagian. Subjek transindividual bukanlah kumpulan individu-individu yang berdiri sendiri, melainkan merupakan satu kesatuan, satu kolektivitas.
Meskipun demikian, subjek transindividual merupakan konsep yang masih kabur. Subjek transindividual itu dapat kelompok kekerabatan, kelompok sekerja, kelompok teritorial, dan sebagainya. Goldmann menspesifikasikannya sebagai kelas sosial dalam pengertian Marxis sebab baginya kelompok itulah yang terbukti dalam sejarah sebagai keompok yang telah menciptakan suatu pandangan yang lengkap dan menyeluruh mengenai kehidupan dan yang telah mempengaruhi perkembangan sejarah umat manusia. Dalam strukturalisme genetik, subjek transindividual merupakan energi untuk membangun pandangan dunia.
b.  Fakta Kemanusiaan
Fakta kemanusiaan adalah segala hasil aktifitas atau perilaku manusia baik yang verbal maupun yang fisik, yang berusaha dipahami oleh ilmu pengetahuan. Fakta ini dapat berwujud aktifitas sosial tertentu, aktivitas politik tertentu, maupun kreasi kultural seperti filsafat, seni rupa, seni patung, dan seni sastra (Faruk, 1999:12).
akta-fakta kemanusiaan pada hakikatnya dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu fakta individual dan fakta sosial. Fakta yang kedua mempunyai peranan penting dalam sejarah, sedangkan fakta yang pertama tidak memiliki hal itu (Faruk, 1999:120)
Goldmann (dalam Faruk, 1999:12) menganggap bahwa semua fakta kemanusiaan merupakan suatu struktur yang berarti. Yang dimaksudkannya adalah bahwa fakta-fakta itu sekaligus mempunyai struktur tertentu dan arti tertentu. Oleh karena itu, pemahaman mengenai fakta-fakta kemanusiaan harus mempertimbangkan struktur dan artinya.
Goldman (dalam Faruk, 1999:13) juga mengatakan bahwa fakta-fakta kemanusiaan mempunyai arti karena merupakan respon-respon dari subjek kolektif atau individual, pembangunan suatu percobaan untuk memodifikasi situasi yang ada agar cocok bagi aspirasi-aspirasi subjek itu. Dengan kata lain, fakta-fakta itu merupakan hasil usaha manusia mencapai keseimbangan yang lebih baik dalam hubungannya dengan dunia sekitar (Goldmann dalam Faruk, 1999:13).


c. Homolog
Homolog

Homologi menurut Ratna (2006: 122) diturunkan melalui organisme primitif yang sama dan disamakan dengan korespondensi, kualitas hubungan yang bersifat struktural. Homologi memiliki implikasi dengan hubungan bermakna antara struktur literer dengan struktur sosial. Nilai-nilai yang otentik yang terdapat pada strukturalisme genetik menganggap bahwa karya sastra sebagai homolagi antara struktur karya sastra dengan struktur lain yang berkaitan dengan sikap suatu kelas tertentu atau struktur mental dan pandangan dunia yang dimiliki oleh pengarang dan penyesuaiannya dengan struktur sosialnya.

d .  Pandangan Dunia
Goldmann (dalam Suwardi Endraswara, 2003:57) berpendapat, karya sastra sebagai struktur bermakna itu akan mewakili pandangan dunia (vision du monde) penulis, tidak sebagai individu melainkan sebagai anggota masyarakat. Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa strukturalisme genetik merupakan penelitian sastra yang menghubungkan antara struktur sastra dengan struktur masyarakat melalui pandangan dunia atau ideologi yang diekspresikannya. Oleh karena itu, karya sastra tidak akan dapat dipahami secara utuh jika totalitas kehidupan masyarakat yang telah melahirkan teks sastra diabaikan begitu saja. Pengabaian unsur masyarakat berarti penelitian sastra menjadi pincang.
Pandangan dunia adalah kerucutisasi ide-ide, gagasan-gagasan dari suatu kelompok sosial tertentu dan dipertentangkan dengan ide-ide, gagasan-gagasan kelompok sosial lainnya.
Pandangan dunia menurut Goldmann adalah istilah yang cocok bagi kompleks menyeluruh dari gagasan-gagasan, aspirasi-aspirasi, dan perasaan-perasaan, yang menghubungkan secara bersama-sama anggotaanggota suatu kelompok sosial tertentu dan yang mempertentangkannya dengan kelompok-kelompok sosial lain. Sebagai suatu kesadaran kolektif, pandangan dunia itu berkembang sebagai hasil dari situasi sosial dan ekonomik tertentu yang dihadapi subjek kolektif yang memilikinya (Goldmann dalam Faruk, 1999:16).
Suwardi Endraswara dalam bukunya Metodologi Penelitian Sastra (2003:60) menyatakan bahwa hipotesis Goldmann yang mendasari penemuan world view adalah tiga hal yaitu, pertama, semua perilaku manusia mengarah pada hubungan rasionalitas , maksudnya selalu berupa respon terhadap lingkungannya; kedua, kelompok sosial mempunyai tendensi untuk menciptakan pola tertentu yang berbeda dari pola yang sudah ada; ketiga, perilaku manusia adalah usaha yang dilakukan secara tetap menuju transendensi, yaitu aktivitas, transformasi, dan kualitas kegiatan dan semua aksi sosial dan sejarah.
Pada bagian lain, Goldmann (dalam Suwardi Endraswara, 2003:58) mengemukakan bahwa pandangan dunia merupakan perspektif yang koheren dan terpadu mengenai hubungan manusia dengan sesamanya dan dengan alam semesta. Hal ini menunjukkan bahwa pandangan dunia adalah sebuah kesadaran hakiki masyarakat dalam menghadapi kehidupan. Namun dalam karya sastra, hal ini amat berbeda dengan keadaan nyata. Kesadaran tentang pandangan dunia ini adalah kesadaran mungkin, atau kesadaran yang telah ditafsirkan. Oleh karena itu, boleh dikatakan bahwa karya sastra sebenarnya merupakan ekspresi pandangan dunia yang imajiner.
Pandangan dunia memicu subjek untuk mengarang, dan dianggap sebagai salah satu ciri keberhasilan suatu karya. dalam rangka strukturalisme genetik, pandangan dunia berfungsi untuk menunjukkan kecenderungan kolektivitas tertentu. Melalui kualitas pandangan dunia inilah karya sastra menunjukkan nilai-nilainya, sekaligus memperoleh artinya bagi masyarakat.
Menurut Goldmann via Faruk (1999: 15) pandangan dunia merupakan istilah yang cocok bagi kompleks menyeluruh dari gagasan-gagasan, aspirasi-aspirasi, dan perasaan-perasaan yang menghubungkan secara bersama-sama anggota kelompok sosial tertentu dan mempertentangkannya dengan kelompk sosial yang lainnya. Masih menurut goldman pandangan dunia merupakan kesadaran kolektif yang dapat digunakan sebagai hipotesis kerja yang konseptual, suatu model, bagi pemahaman mengenai koherensi struktur teks sastra.
Pandangan dunia ini berkembang sebagai hasil dari situasi sosial dan ekonomi tertentu yang dihadapi oleh subjek kolektif yang memilikinya. Pandangan dunia tidak lahir dengan tiba-tiba , transformasi mentalitas yang lama secara berlahan-lahan dan bertahap diperlukan demi terbangunnya mentalitas yang baru dan teratasinya mentalitas yang lama.
Secara sederhana, mengikuti pendapat Iswanto (Rachmat Djoko Pradopo.et al, 2001:62), penelitian dengan metode strukturalisme genetik dapat diformulasikan sebagai berikut. Pertama, penelitian harus dimulai pada kajian unsur intrinsik karya sastra. Kedua, mengkaji latar belakang kehidupan social kelompok sosial pengarang karena ia merupakan bagian dari komunitas kelompok tertentu. Ketiga, mengkaji latar belakang sosial dan sejarah yang turut mengkondisikan karya sastra saat diciptakan pengarang. Dari ketiga langkah tersebut akan diperoleh abstraksi pandangan dunia pengarang yang diperjuangkan oleh tokoh problematik yang biasanya adalah tokoh utama.

BAB III
METODE PENELITIAN
1.    Pendekatan
Pendekatan adalah cara seseorang mendekati sesuatu untuk mengetahui seluk-beluk sesuatu yang ingin diketahuinya.Dalam karya sastra terdapat banyak jenis pendekatan yang digunakan untuk menganalisis karya sastra tersebut.Dengan menggunakan pendekatan dalam menganalisis karya sastra akan memudahkan kita untuk mengetahui makna yangb terkandung di dalam karya sastra.
Dalam menganalisis drama “Ningrat” ini, maka pendekatan yang digunakan adalah pendekatan strukturalisme genetik. Sesuai dengan teori di atas, pendekatan ini merupakan follow up (lanjutan) dari pendekatan strukturalis-formalis. Pendekatan ini mengelaborasi faktor intrinsik dan ekstrinsik dalam penelitian suatu karya sastra dengan medium visi dunia dari pengarang.
Suwardi Endraswara mengatakan bahwa penelitian strukturalisme genetic memandang karya sastra dari dua sudut, yaitu intrinsik dan ekstrinsik. Studi diawali dari kajian unsur intrinsik (kesatuan dan koherensinya) sebagai data dasarnya. Selanjutnya, penelitian akan menghubungkan berbagai unsur dengan relitas masyarakatnya. Karya dipandang sebagai refleksi zaman, yang dapat mengungkapkan aspek sosial, budaya, politik, ekonomi, dan sebagainya.
Peristiwa-peristiwa penting dari zamannya akan dihubungkan langsung dengan unsur-unsur intrinsik karya sastra (Suwardi Endraswara, 2003:56)
Goldmann memberikan rumusan penelitian strukturalisme genetik , dalam tiga hal (dalam Suwardi Endraswara, 2003:57), yaitu:
(1) penelitian terhadap karya sastra seharusnya dilihat sebagai satu kesatuan;
(2) karya sastra yang diteliti mestinya karya sastra yang bernilai sastra yaitu karya yang mengandung tegangan (tension) antara keragaman dan kesatuan dalam suatu keseluruhan (a coherent whole);
(3) jika kesatuan telah ditemukan, kemudian dianalisis dalam hubungannya dengan latar belakang sosial. Sifat hubungan tersebut: (a) yang berhubungan dengan latar belakang sosial adalah unsur kesatuan, (b) latar belakang yang dimaksud adalah pandangan dunia suatu kelompok sosial yang dilahirkan pengarang sehingga hal tersebut dapat dikongkretkan.
Secara sederhana, kerja peneliti strukturalisme genetik dapat dapat diformulasikan dalam tiga langkah. Pertama, peneliti bermula dari kajian unsure intrinsik, baik secara parsial maupun dalam jalinan keseluruhannya. Kedua, mengkaji kehidupan sosial budaya pengarang, karena ia merupakan bagian dari komunitas tertentu. Ketiga, mengkaji latar belakang sosial dan sejarah yang turut mengkondisikan karya sastra saat diciptakan oleh pengarang (Suwardi Endraswara, 2003:62). Ada satu langkah yang terlewatkan oleh Suwardi Endraswara dalam penelitian strukturalisme genetik ini, yaitu mengkaji pandangan dunia pengarang, seperti pendapat Iswanto (Racmat Djoko Pradopo. Et al, 2001: 62). Pandangan dunia ini merupakan perantara antara struktur dalam karya sastra dengan genetika karya sastra tersebut.
2. Metode
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang bersifat deskriptif. Metode kualitatif menekankan kualitas sesuai dengan pemahaman deskriptif dan alamiah itu sendiri. Dalam penelitian deskritif, data yang dikumpulkan bukanlah angka-angka, melainkan dapat berupa kata-kata atau gambaran tertentu. Deskriptif dalam hal ini merupakan gambaran ciri-ciri data secara akurat sesuai dengan sifat alamiah itu sendiri. Secara deskriptif peneliti dapat memerikan ciri-ciri, sifat-sifat, serta gambaran data melalui pemilahan data yang dilakukan pada tahap pemilahan data setelah data terkumpul (Fatimah Djajasudarma, 1993:15-16).
Bogdan dan Taylor ( dalam Moleong, Lexy, 2002:3) berpendapat bahwa metode kualitataif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Bersifat deskriptif karena dalam penelitian ini data yang terkumpul berupa satuan semantis seperti kata-kata, frasa, klausa, kalimat, dan paragraf, juga gambar, dan hasilnya berupa kutipan-kutipan dari kumpulan data tersebut yang berisi tindakan, pikiran, pandangan hidup, konsep, ide, gagasan yang disampaikan pengarang melalui karyanya.
3. Objek Penelitian
Objek penelitian ini adalah aspek–aspek struktural formal, pandangan dunia pengarang dan aspek-aspek genetis yang terkandung dalamdrama “Ningrat” karya La Ode Sadia. Objek penelitian ini dapat berupa kata dan kalimat yang berupa ungkapan dan dialog tokoh-tokoh yang terdapat dalam ini.
4. Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini adalah dram “Ningrat” karya La Ode Sadia.
5. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data penelitian ini adalah teknik simak dan catat. Objek penelitian ini adalah roman, maka penyimakan dilakukan dengan jalan membaca dan mempelajari objek penelitian, kemudian diadakan inventaris data sebagai bahan yang akan diolah dalam penelitian ini.
6. Teknik Pengolahan Data
1. Tahap deskripsi: seluruh data yang diperoleh dihubungkan dengan persoalan setelah itu dilakukan tahap pendeskripsian .
2. Tahap klasifikasi: data-data yang telah dideskripsikan kemudian dikelompokkan menurut      kelompoknya masing-masing sesuai dengan permasalahan yang ada .
3. Tahap analisis: data-data yang telah diklasifikasikan menurut kelompoknya masing-masing dianalisis menurut struktur kemudian dianalisis lagi dengan pendekatan strukturalisme genetik.
4. Tahap interpretasi data: upaya penafsiran dan pemahaman terhadap hasil analisis data.
5. Tahap evaluasi: data-data yang sudah dianalisis dan diinterpretasikan belum ditarik kesimpulan begitu saja. Data-data harus diteliti dan dievaluasi kembali agar dapat diperoleh penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan.
7. Teknik Penarikan Simpulan
Penelitian ini akan disimpulkan dengan teknik induktif yaitu penarikan kesimpulan berdasarkan dari pengetahuan yang bersifat khusus, untuk menentukan kesimpulan yang bersifat umum.

BAB IV
PEMBAHASAN
1..Ringkasan Drama “Ningrat” Karya La Ode Sadia
    Drama “Ningrat” karya La Ode Sadia ini menceritakan tentang keteguhan cinta dua anak manusia yang berbeda derajat dalam kehidupan di masyarakat tempat mereka tinggal.Perbedaan ini terjadi karena Wa Ode adalah seorang wanita yang mempunyai kedudukan derajat yang tinggi yaitu Wa Ode menyandang gelar ningrat yang diturunkan kepada dirinya yang berasal dari orang tuanya sedangkan La Ege hanyalah seorang lelaki biasa yang tidak mempunyai kedudukan yang tinggi seperti yang dimiliki oleh Wa Ode di mata masyarakat tempat ia tinggal. Cinta mereka tidak terhalang oleh berbagai  rintangan apapun. Walaupun rintangan yang mereka hadapi cukup besar, namun mereka tetap mempertahankan cinta merreka. Rintangan tersebut yaitu akibat perbedaan derajat yang dimiliki oleh Wa Ode dan La Ege, cinta mereka ditentang oleh orang tua Wa Ode yang merasa dirinya mempunyai derajat yang tinggi di banding La Ege yang derajatnya sangat rendah sekali.Mereka merasa,jika Wa Ode yang mempunyai derajat yang tinggi dengan La Ege yang derajatnya sangat rendah maka hal itu akan menjatuhkan harga diri mereka di mata masyarakat sekaligus juga akan menjatuhkan derajat mereka dalam hal ini Wa Ode tidak memiliki derajat yang tinggi lagi di mata masyarakat karena Wa Ode harus mengikuti derajat suaminya yang rendah. Untuk mencegah hal itu terjadi, maka keluarga Wa Ode sangat menentang keras jika mereka harus menjalin cintanya ke jenjang perkawinan. Kisah ini bermula ketika di suatu malam, La Ege menunggu Wa Ode di suatu tempat. La Ege sudah lama menunggu namun Wa Ode belumjuga datang. La Ege sudah maklum dengan hal itu karena ia sudah mengetahui penyebabnya bahwa Wa Ode sangat susah sekali intuk pergi dari rumahnya yaitu jika Wa Ode meminta izin kepada ayahnya untuk menemui La Ege maka ia pasti sangat dilarang maka Wa Ode pasti menunggu saat yang tepat untuk pergi menemui La Ege yaitu ketika orang tuanya terutama ayahnya sudah tidur sehingga tidak ada yang mengetahui bahwa dia pergi menemui La Ege. Walaupun sudah hamper larut malam, La Ege tetap menunggu dengan sabar. Setelah lama menunggu akhirnya kesabaran itu terbayarkan sudah dengan kedatangan Wa Ode. Wa Ode meminta maaf kepada La Ege karena ia harus menunggu lama dirinya dan ia melakukan hal itu karena terpaksa. La Ege sudah memprediksikan hal itu. Namun La Ege sudah tidak tahan lagi menjalin hubungan seperti itu yaitu harus sembunyi-sembunyi ketika mereka bertemu. Akhirnya La Ege mengatakan kepada Wa Ode bahwa ia akan melamar dia. Wa Ode sangat gembira mendengar hal itu, karena ia sudah tidak tahan juga untuk sembunyi-sembunyi terus-menerus dalam menjalin hubungan cintanya. Namun hal itu tidaklah berjalan mudah seperti yang mereka harapkan. Ketika beberapa orang tua kampung datang ke rumah Wa Ode untuk mewakili La Ege menyampaikan maksudnya untuk melamar Wa Ode,orang tuanya sangat marah besar karena mereka mengetahui bahwa La Ege yang mempunyai derajat yang rendah telah berani melamar Wa Ode yang mempunyai derajat yang tinggi. Mengetahui lamaran La Ege ditolak mentah-mentah oleh orang tuanya, Wa Ode datang kepada La Ege sambil menangis. Karena kesungguhan hatinya untuk melamar Wa Ode maka La Ege tidak pantang menyerah. Ia berniat untuk datang sendiri melamar Wa Ode kepada keluarganya.Wa Ode melarang niat La Ege tersebut karena Wa Ode tahu bahwa ia pasti akan dipukul oleh keluarganya jika hal itu terjadi. Namun karena kesungguh-sungguhannya, ia tetap ingin meneruskan niatnya. Sementara berbincang-bincang, tiba-tiba datang ayah dan kakak Wa Ode yang yang telah melihat mereka sedang berpacaran. Karena sangat benci dengan La Ege, maka mereka memperlakukannya dengan kasar. Mereka memukul La Ege sampai babak belur dan hamper saja membunuh La Ege jika Wa Ode tidak melarangnya. Akhirnya Wa Ode diseret kerumahnya oleh kakanya karena tidak mau pulang. Walaupun La Ege telah dipukul sampai babak belur dan hampir saja dibunuh namun La Ege tidak menyerah untuk meneruskan niatnya untuk melamar Wa Ode. Ketika La Ege sedang melamun, datang seorang orang tua yang heran melihat keadaannya. Ia menanyakan kepada La Ege masalah yang tengah menimpanya. Semula La Ege tidak mau mengatakannya namun akhirnya La Ege menceritakan juga hal telah terjadi padanya kepada orang tua itu. Setelah hal itu diceritakan, akhirnya orang tua itu menyarankan jika mereka benar-benar saling menyayang maka jalan lain yang harus mereka tempuh adalah melakukan kawin lari yaitu walaupun tanpa persetujuan orang tua maka perkawinan mereka tetap dapat dilangsungkan. Mendengar hal itu, setelah orang tua itu pergi, La Ege segera menulis surat untuk Wa Ode yang ingin menyatakan agar ia ingin melakukan kawin lari bersamanya. Surat itu dititipkan melalui Wa Ani. Setelah membaca surat itu, Wa Ode datang dengan membawa kopor dan bungkusan pakaiannya. Semula Wa Ode ragu untuk melakukan hal itu karena ia sangat sayang orang tuanya. Namun karena rasa cintanya kepada La Ege yang begitu besar, akhirnya ia lebih memilih hidup dengan La Ege daripada menuruti keinginan orang tuanya. Akhirnya mereka pergi meninggalkan semua hal yang menghalangi cinta mereka berdua.
2.Analisis Struktural Genetik terhadap drama “Ningrat” karya La Ode Sadia.
a.Fakta Individual
    Menurut Faruk, subjek transindividual adalah subjek yang mengatasi individu, yang di dalamnya individu hanya merupakan  bagian. Subjek transindividual bukanlah kumpulan individu-individu yang berdiri sendiri, melainkan merupakan satu kesatuan, satu kolektivitas.
    Dalam drama yang berjudul “Ningrat” karya La Ode Sadia ini terdapat sejumlah fakta-fakta yang menjadi kenyataan dalam setiap diri individual.Fakta-fakta individual ini menjadi ciri khas dari masing-masing tokoh yang berada di dalam drama ini.
    Hal terlihat seperti pada tokoh La Ege yang rela melakukan hal apa saja demi tetap bersama dengan pujaan hatinya. Dengan kesungguhan hatinya mencintai Wa Ode, ia rela menghadapi berbagai rintangan yang menghalangi cinta mereka berdua. Ia bahkan berani menentang adat-adat yang berlaku di masyarakat mereka yaitu adat yang menentang terjadinya perkawinan antara dua anak manusia yang kedudukannya tidak setara artinya salah satu pihak dari mereka mempunyai derajat yang lebih tinggi. Namun La Ege tidak menjadikannya sebagai rintangan. Ia rela menghadapi orang tua Wa Ode, demi merestui hubungancinta yang telah mereka jalin. Walaupun ia telah diperlakukan dengan kasar ketika meminta restu dari keluarga La Ege, namun ia tetap tidak pantang untuk menyerah. Ia bahkan melalui jalan pintas untuk dapat menikah dengan Wa Ode yaitu dengan membawa lari Wa Ode.
    Hal tersebut pula merupakan hal yang serupa terjadi pada Wa Ode. Walaupun orang tuanya melarangnya untuk berhubungan dengan La Ege yang tidak mempunyai derajat yang tinggi, ia tidak menggubris larangan orang tuanya itu. Ia tetap berhubungan dengan La Ege. Ia menganggap bahwa perbedaan derajat yang mereka sandang bukanlah menjadi faktor penghalang dari hubungan mereka. Ia sangat mencintai La Ege,sehingga walaupun orang tuanya melarangnya untuk berhubungan dengan La Ege ia tetap menjalin cintanya dengan lelaki itu. Bahkan ia mengikuti kemauan kekasihnya La Ege untuk kabur bersamanya.Walaupun hal itu ia lakukan juga dengan sangat terpaksa karena ia juga menyayangi orang tuanya. Namun walaupun seperti itu ketika dihadapkan antara dua pilihan yaitu untuk mengikuti perintah orang tuanya yang melarang untuk berhubungan dengan La Ege yang mempunyai derajat yang rendah atau mengikuti La Ege kekasih hatinya untuk kabur meninggalkan orang tuanya agar tidak ada lagi pihak yang menentang hubungan mereka sehingga mereka dapat terus bersama-sama dengan melangsungkan pernikahan mereka. Namun, karena rasa cintanya yang begitu dalam terhadap La Ege ia rela melakukan apa saja agar ia tetap dapat bersama dengan kekasihnya ini, bahkan walaupun ia harus meninggalkan orang tuanya. Ia rela mengikuti sang kekasihnya dalam suka maupun duka.
    Keluarga Wa Ode terutama ayah dan kakaknya sangat menentang hubungan cinta yang terjalin antara La Ege dan Wa Ode karena mereka menganggap bahwa apabila Wa Ode kawin dengan La Ege maka hal itu tentunya akan menjatuhkan martabat mereka. Hal ini disebabkan karena keluarga Wa Ode mempunyai derajat yang tinggi di mata masyarakat sedangkan La Ege tidak mempunyai sesuatu yang dapat diandalkan terutama dalam hal derajat. Jika hal itu terjadi tentunya kehormatan mereka akan turun dan derajat mereka pun akan turun. Oleh karena itu  ketika mengetahui bahwa La Ege hendak melamar Wa Ode, ayah Wa Ode sangat marah karena karena perbedaan derajat tersebut. Ia tidak rela anaknya kawin dengan lelaki yang tidak mempunyai apa-apa. Walaupun anaknya akan tersiksa dengan hal itu, namun orang tua Wa Ode tetap mempertahankan pendapatnya. Mereka rela mengorbankan kebahagiaan anaknya hanya demi untuk menjaga kehormatan.
b. Fakta Kemanusiaan
Fakta kemanusiaan merupakan hasil aktivitas atau perilaku manusia baik yang verbal maupun yang fisik, yang berusaha dipahami ilmu pengetahuan. Fakta kemanusiaan dalam Strukturalisme genetik dibagi kedalam dua bagian yaitu, fakta individual dan fakta sosial. Goldmann via Faruk (1999: 13) menganggap bahwa semua fakta kemanusiaan mempunyai struktur tertentu dan arti tertentu. Fakta-fakta manusia ini memiliki arti karena bersentuhan dnegan subjek kolektif ataui individual. Dengan kata lain, Fakta-fakta kemanusiaan ini merupakan hasil usaha manusia untuk mencapai keseimbangan yang lebih baik dalam hubungannya dengan dunia sekitar.
Dalam proses strukturasi dan akomodasi yang terus menerus suatu karya sastra sebagai fakta kemanusiaan, sebagai hasil aktivitas kultural manusia. Proses tersebut sekaligus merupakan genetik dari struktur karya sastra.
Dalam kehidupan masyarakat terdapat suatu kebudayaan yang sangat menentang terjadinya pernikahan antar dua pasangan yang mempunyai derajat yang berbeda. Hal ini dikarenakan, jika hal itu terjadi maka tentunya akan menjatuhkan martabat mereka di mata masyarakat. 
    Pertentangan perkawinan antara dua pasangan yang mempunyai derajat yang tidak setara ini sangat ditentang oleh masyarakat khususnya bagi keluarga yang mempunyai derajat yang tinggi. Hal ini masih belum sebanding jika yang terjadi apabila pihak laki-laki mempunyai derajat yang lebih rendah dibanding dengan derajat pihak perempuan. Jika kedua pihak ini melangsungkan pernikahan, tentunya dalam aturan adat istiadat yang berlaku dalam masyarakat yang menganut sistem ini maka pihak wanita akan mengikuti pihak laki-laki dari aspek apapun. Baik dari aspek kekayaan maupun aspek derajat.Jika pihak lelaki adalah orang miskin maka pihak perempuan akan mengikuti akan mengikuti semua keadaan suaminya. Begitupula jika keluarga suaminya memiliki derajat yang rendah sementara keluarga istrinya mempunyai derajat yang cukup tinggi maka secara otomatis maka maka derajat perempuan akan turun karena ia harus mengikuti derajat yang disandang oleh suaminya.
    Namun hal ini juga serupa terjadi jika pihak perempuan yang mempunyai derajat yang lebih rendah dibanding derajat yang dimiliki oleh pihak laki-laki. Hal ini memang juga dipertentangkan oleh oleh masyarakat. Namun masalah ini tidak serumit yang terjadi jika pihak perempuan yang mempunyai derajat yang lebih tinggi daripada pihak laki-laki. Jika pihak laki-laki yang mempunyai derajat yang lebih tinggi yang menjadi persoalan hanyalah jika keluarga pihak laki-laki ingin menjaga kehormatan mereka di mata masyarakat. Dan tentunya pihak laki-laki tidak akan turun derajatnya karena kawin dengan perempuan yang derajatnya tidak tinggi karena pihak perempuan yang mengikuti pihak laki-laki maka derajat perempuan yang akan naik karena mengikuti derajat yang dimiliki oleh suaminya.
c. Homologi
            Homologi menurut Ratna (2006: 122) diturunkan melalui organisme primitif yang sama dan disamakan dengan korespondensi, kualitas hubungan yang bersifat struktural. Homologi memiliki implikasi dengan hubungan bermakna antara struktur literer dengan struktur sosial. Nilai-nilai yang otentik yang terdapat pada strukturalisme genetik menganggap bahwa karya sastra sebagai homolagi antara struktur karya sastra dengan struktur lain yang berkaitan dengan sikap suatu kelas tertentu atau struktur mental dan pandangan dunia yang dimiliki oleh pengarang dan penyesuaiannya dengan struktur sosialnya.
    Pada drama “Ningrat” karya La Ode Sadia terdapat banyak fakta-fakta yang serupa terjadi di dalam masyarakat dengan fakta-fakta yang terjadi di dalam karya sastra khususnya dalam drama ini.Hal ini terlihat ketika kisah cinta Wa Ode dan La Ege harus terhalang oleh perbedaan derajat yang mereka miliki.Karena La Ege mempunyai derajat yang lebih rendah daripada Wa Ode maka kisah cinta mereka sangat ditentang keras oleh keluarga Wa Ode.Mereka tidak mau kehormatan keluarga mereka di mata masyarakat menjadi rendah hanya karena Wa Ode kawin dengan lelaki yang mempunyai derajat yang rendah. Selain itu pula hal ini tentunya akan menjadikan derajat Wa Ode menjadi rendah.
    Hal ini serupa dengan yang terjadi di masyarakat sosial kisah cinta Wa Ode  dan La Ege yang harus terhalang oleh perbedaan derajat yang mereka miliki. Dalam hal ini terjadi homologi antara fakta-fakta yang terjadi di masyarakat dengan fakta yang terjadi di dalam drama “Ningrat” karya La Ode Sadia ini.Di masyarakat yang masih menganut sistem adat yang menghendaki perkawinan antara sesama mereka yang mempunyai derajat yang setara. Adat ini sangat menentang terjadinya perkawinanan yang berbeda derajat karena hal ini akan merugikan pihak yang mempunyai dderajat yang lebih tinggi.
d.Pandangan Dunia
Pandangan dunia menurut Goldmann adalah istilah yang cocok bagi kompleks menyeluruh dari gagasan-gagasan, aspirasi-aspirasi, dan perasaan-perasaan, yang menghubungkan secara bersama-sama anggotaanggota suatu kelompok sosial tertentu dan yang mempertentangkannya dengan kelompok-kelompok sosial lain. Sebagai suatu kesadaran kolektif, pandangan dunia itu berkembang sebagai hasil dari situasi sosial dan ekonomik tertentu yang dihadapi subjek kolektif yang memilikinya (Goldmann dalam Faruk, 1999:16).
    Pada drama “Ningrat” karya La Ode Sadia ini mempunyai fakta-fakta yang serupa terjadi di masyarakat. Dalam drama “Ningrat” ini merupakan penuangan penulis terhadap fakta-fakta yang terjadi di masyarakat yang masih menganut adat istiadat kawin  dengan sesama mereka yang mempunyai derajat yang setara. Mereka sangat menghargai orang-orang yang mempunyai derajat yang tinggi ketimbang orang-orang yang mempunyai derajat lebih rendah daripada mereka. Dalam hal inimereka masih menjunjung tinggi derajat yang mereka miliki. Mereka sangat menjaga yang mereka miliki, jangan sampe derajat itu ternodai ataupun menjadi rendah di mata masyarakat. Dengan derajat tinggi yang mereka miliki, mereka akan dihormati dan disegani oleh orang-orang yang berada di sekitarnya. Hal ini belum diketahui secara pasti mengapa masyarakat sangat menghormati orang-orang yang mempunyai derajat yang tinggi. Dengan derajat yang tinggi, belum tentu mereka mampu menolong orang lain jika mereka tidaka sanggup ,memenuhi permintaan masyarakat. Hal ini disebabkan karena orang-orang yang mempunyai derajat yang tinggi adalah juga manusia biasa. Mereka tidak mampu melakukan semua yang dibutuhkan oleh masyarakat. Begitu pula bagi orang yang mempunyai derajat yang tinggi, mereka menganggap bahwa diri merekalah yang paling dihargai di mata masyarakat dan sangat berpengaruh dalam suatu kehidupan komunitas manusia. Padahal untuk melihat relita yang sering terjadi sekarang bahwa orang-orang yang tinggi derajatnya sudah kurang diperhatikan oleh khalayak ramai. Hal ini disebakan bahwa orang-orang yang dihargai ataupun disegani oleh masyarakat adalah dengan mampu berbuat hal-hal yang sangat berguna bagi kehidupan masyarakat. Bahkan orang-orang yang mempunyai derajat yang tinggi sudah tidak mempunyai pengaruh apa-apa dalam kehidupan masyarakat.















   

   

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar