Senin, 12 Desember 2011

KAJIAN DRAMA


Analisis Drama “Tanah yang Hilang”
Dengan Menggunakan Pendekatan Struktural



BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
    Merumuskan pengertian sastra secara sempurna tidak semudah merumuskan pengertian pada ilmu eksakta,namun demikian untuk mempelajari suatu cabang ilmu pengetahuan secara teliti orang selalu berusaha menemukan defenisi guna mengetahui pembatasan tentang permasalahan ilmu yang bersangkutan.
    Sastra menurut Panuti Sudjiman (1990:7)mengemukakan bahwa sastra adalah karangan lisan atau tuntutan yang memiliki keunggulan  atau keorisinilan,keindahan dalam isi dan ungkapannya.Lebih lanjut Panuti Sudjiman mengemukakan bahwa karya sastra rakyat adalah kategori yang mencakup lagu rakyat,balada,dongeng,ketoprak,peribahasa,teka-teki,legenda,dan banyak kondisi lainnya.
    Menurut Brooks (Tarigan,1984:120) bahwa sastra adalah istilah yang digunakan untuk membedakan uraian yang tidak bersifat historis.
Karya sastra merupakan seni yang menggunakan bahasa sebagai medianya.Pada umumnya mengandung unsur keindahan yang menimbulkan rasa senang,menarik perhatian,dan menyegarkan perasaan bagi penikmatnya.Menurut Horace,hakikat dan fungsi karya sastra adalah menyenangkan dan berguna.Kedua hal tersebut mempunyai kaitan arti yang kuat dan menimbulkan suatu pengertian .Oleh karena itu hakikat dan fungsi karya sastra tersebut menjadi hasil kebudayaan yang pantas mendapat perhatian.
    Kedudukan dan manfaat karya sastra bagi seorang pencipta karya sastra tidak hanya ingin mengapresiasikan pengalaman jiwanya saja,tetapi lebih dari itu.Pengarang bermaksud mempengaruhi pembaca agar ikut memahami dan menghayati ide yang dituangkan dalam karya sastra tersebut.
Penulis sastra bukanlah seseorang yang sekedar menulis bahasa.Penulis sastra membuat sebuah dunia kehidupan dengan menggunakan bahasa pilihan.Bagi penulis sastra itu merupakan sebuah dunia kehidupan yang ingin memahami kehidupan dengan membangun sebuah model dan menjelaskan berbagai kemungkinan dalam kehidupan berdasarkan model tersebut.Untuk menjelaskan berbagai kemungkinan dalam kehidupan,penulis memilih bahasa yang dipandang tepat dan secara estetis relevan dengan proses penjelasannya.Maka dunia rekaan yang ditawarkan oleh penulis adalah dunia alternatif sehingga dengan demikian dunia tersebut bukanlah dunia yang sesungguhnya.
Berdasarkan hal di atas,salah satu ciri karya sastra adalah bersifat imajinatif yaitu menimbulkan citra atau bayangan tertentu di dalam lingkungan peminatnya sehingga mampu membangkitkan perasaan senang,sedih,marah,benci,dan dendam.Perasaan itu muncul bukan oleh perasaan atau pertentangan nasib melainkan karena pengaruh teknik penceritaan penulis.
Pada umumnya karya sastra membicarakan manusia dengan bermacam-macam aspek kehidupannya.Dengan demikian karya sastra menjadi sarana yang amat penting untuk mengenal secara sempurna terhadap manusia dan zamannya.
Objek sastra adalah manusia dan kehidupannya sehingga unsur-unsur intrinsik yang ditonjolkan oleh pengarang juga berbeda-beda sesuai dengan zaman karya sastra itu ditulis.Perbedaan dan pergeseran zaman suatu kehidupan masyarakat menyebabkan permasalahan yang ditonjolkan berbeda pula.
Perkembangan zaman akan mempengaruhi perkembangan suatu karya sastra seperti halnya drama sebagai salah satu bagian dari karya sastra,akan memberikan sesuatu yang berharga kepada penikmatnya sebab drama bukan saja membicarakan satu segi kehidupan tetapi juga membicarakan berbagai segi kehidupan dengan segala aspeknya.
Drama adalah cerita konflik manusia dalam bentuk dialog yang diproyeksikan pada pentas dengan menggunakan percakapan dan action di hadapan penonton (audience).Semi (1993:156)mengatakan drama sebagai certa atau perilaku manusia yang dipentaskan.Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Mulyono,1997:243) mengartikan drama sebagai komposisi syair atau prosa yang menggambarkan kehidupan dan watak kmelalui tingkah laku atau dialog yang dipentaskan.
    Untuk dapat memahami cerita yang terdapat dalam drama ini maka salah satunya kita harus mengetahui unsur intrinsik yang terkandung di dalamnya.Analisis unsur yang dimaksud adalah merupakan analisis dari struktur drama tersebut.Sehingga dengan demikian maka untuk mengetahui unsur intrinsiknya maka digunakan pendekatan struktural untuk dapat mengungkapkan makna yang terkandung di dalam drama tersebut.
    Adapun dengan menganalisis dengan menggunakan pendekatan struktural maka hal yang diuraikan adalah struktur dari drama yaitu diantaranya alur,tokoh,tema,amanat,dan gaya bahasa.Dengan menguraikan unsur intrinsiknya maka kita dapat menafsirkan isi drama dengan baik.
    Sehubungan dengan hal-hal tersebut maka studi terhadap unsur-unsur intrinsik drama “Tanah yang Hilang”karya  Ryfton Suba sangatlah penting untuk diteliti karena merupakan salah satu pelestarian suatu karya sastra.
   
B.Permasalahan
Pada setiap penyusunan makalah terdapat permasalahan yang menjadi dasar dari pembuatan makalah tersebut.Maka,berrdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan maka yang menjadi permasalahan dalam hal ini yaitu:Bagaimana unsur-unsur intrinsik yang menjadi struktur cerita yang terkandung di dalam drama   yang berjudul “Tanah yang  Hilang”karya Rifton Suba?
C.Tujuan
    Berdasarkan permasalahan yang telah dikemukakan maka yang menjadi tujuan dari dari penyusunan makalah ini adalah untuk mengetahui unsur-unsur intrinsik yang menjadi struktur cerita yang terkandung di dalam drama yang berjudul “Tanah yang Hilang”karya Rifton Suba.
D.Manfaat
    Penulisan makalah ini diharapkan dapat bermanfaat untuk:
1.Membantu para pembaca naskah drama dalam memahami dan menafsirkan isi dari darama “Tanah yang Hilang” karya Rifton Suba dengan menampilkan unsur-unsur intrinsik drama.
2.Sumbangan pemikiran terhadap pengajaran karya sastra khususnya drama.Makalah ini dapat digunakan untuk menambah khasanah literatur pengajaran sastra.Dengan penerapan analisis drama ini dimaksudkan sebagai upaya untuk lebih memperdalam terhadap teks drama tersebut.


BAB II
KAJIAN PUSTAKA
1. Pengertian Drama dan Unsur Pembangunnya
    Objek sastra adalah manusia dan kehidupannya sehingga unsur-unsur intrinsik yang ditonjolkan oleh pengarang juga berbeda-beda sesuai dengan zaman karya sastra itu ditulis.Perbedaan dan pergeseran zaman suatu kehidupan masyarakat menyebabkan permasalahan yang ditonjolkan berbeda pula.
Perkembangan zaman akan mempengaruhi perkembangan suatu karya sastra seperti halnya drama sebagai salah satu bagian dari karya sastra,akan memberikan sesuatu yang berharga kepada penikmatnya sebab drama bukan saja membicarakan satu segi kehidupan tetapi juga membicarakan berbagai segi kehidupan dengan segala aspeknya.
Drama adalah cerita konflik manusia dalam bentuk dialog yang diproyeksikan pada pentas dengan menggunakan percakapan dan action di hadapan penonton (audience).Semi (1993:156)mengatakan drama sebagai certa atau perilaku manusia yang dipentaskan.Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Mulyono,1997:243) mengartikan drama sebagai komposisi syair atau prosa yang menggambarkan kehidupan dan watak kmelalui tingkah laku atau dialog yang dipentaskan.
Drama dapat dirumuskan sebagai seni sastra yang menyajikan alur cerita.Di dalamnya terdapat berbagai nsur seni tari,tetapi juga terdapat seni sastra atau prosa.Karena merupakan perpaduan dari berbagai cabang seni (seni sastra,seni tari,seni musik,seni lukis,dan sebagainya) drama disebut sebagai seni campur atau seni kolektif (Rahmanto,1997/1998:74).
Berdasarkan teori yang dikemukakan di atas,dapat disimpulkan bahwa drama merupakan imitasi kehidupan yang digambarkan dalam perwatakan pelaku dan merupakan suatu upaya relatif pengarang sebagai hasil interpretasi terhadap kehidupan nyataatau kehidupan yang ada dalam imajinasi pengarang yang diwujudkan baik dalam bentuk naskah atau dipentaskan.
Berdasarkan bentuknya,dikenal drama tragedi dan drama komedi.Dua jenis drama ini merupakan pokok dalam kelompok drama.Drama tragedi disebut juga drama duka yaitu drama yang menyebabkan para penonton merasa belas dan ngeri sehingga mereka mengalami pencucian jiwa atau katarsis setelah mengalami ketegangan dan pertikaian batin akibat suatu lakuan dramatis.
Berdasarkan kedua pokok drama itu kita dapat mengamati jenis-jenis drama seperti tragedi komedi atau drama duka ria (drama dengan alur yang sebenarnya lebih cocok untuk drama duka tetapi berakhir dengan kebahagiaan) dan melodrama (drama yang mengupas suka duka kehidupan dengan cara menimbulkan rasa haru pada penonton,tetapi tidak sedalam tragedi dan tidak sampai menimbulkan katarsis).
Drama heroik merupakan perwujudan bentuk tragedi dan selalu bertemakan cinta dan nama baik.Banyolan adalah drama ringan yang alurnya tersusun berdasarkan liku-liku situasi dan tidak berdasarkan perkembangan tokoh,biasanya  berisikan lakuan dan cakapan yang kocak dan kasar.Komedi stambul merupakan komedi yang berbahasa Melayu yang menceritakan hikayat 1001 malam.i pantomim.Drama yang lazim dikenal adalah drama kata yaitu drama yang banyak menggunakan kata.Drama mini kata merupakan bentuk drama pantomim relatif yang hampir tidak menggunakan cakapan.Penciptaan alur lakon ditimbulkan melalui suara dan improvisasi gerak yang teatrikal,Drama pantomim adalah drama bisu,pertunjukkan drama dengan sama sekali tidak menggunakan pengucapan kata hanya menggunakan sikap dan gerak serta biasanya diiring musik.Drama pantomim ini kiranya bukan tergolong ke dalam sastra drama.
Dari segi kuantitas cakupannya terdapat drama kata,drama mini kata,drama pantomim.Drama yang sering dikenal adalah drama kata yaitu drama yang banyak menggunakan banyak kata.Drama mini kata merupakan bentuk drama pantomim relatif yang hampir tidak menggunakan cakapan.Penciptaan alur lakon ditimbulkan melalui suara dan improvisasi gerak yang teatrikal.Drama pantomim adalah drama bisu yaitu pertunjukkan drama dengan sama sekali tidak menggunakan pengucapan kata hanya menggunakan sikap dan gerakan serta biasanya diiringi musik.Drama pantomim ini kiranya bukan tergolong ke dalam sastra drama.
Dari aspek jumlah pelaku,terbagi atas drama dialog dan drama monolog.Drama dialog paling lazim dan umunya dipertunjukkan.Drama monolog adalah drama yang dimainkan atau dirancang untuk dimainkan oleh seorang pemain.
Berdasarkan media pementasan dikenal dengan drama radio (rekaman radio) atau drama televisi (rekaman radio dan sinetron film) dan drama pentas (panggung).Selain itu ada juga drama yang lebih mementingkan gaya sastranya daripada nilai dramatiknya.Drama ini disebut dengan drama baca yang hanya cocok untuk dibaca tidak untuk dipentaskan.
Dari segi penonjolan unsur seninya,terdapat drama tablo,opera,dan sendra tari atau drama tari.Jenis-jenis ini meskipun jarang dapat juga ditemukan dalam kegiatan seni masyarakat kita.Drama tablo merupakan bentuk pementasan drama yang komposisi pemainnya terdiri atas beberapa pemain yang tidak bergerak,tidak bersuara untuk memperoleh efek khusus.Narator biasanya diikutkan untuk memberi prolog atau keterangan cerita.
Opera adalah bentuk drama yang sebagian atau seluruhnya dinyanyikan (menonjolkan suara),biasanya dilengkapi dengan kelompok pemusik atau pengiringnya.Jenis opera yang ringan atau kecil disebut operet.Sendra tari atau drama tari adalah jenis drama yang menonjolkan seni tari,iringan musik,dan narator berperan penting dalam jenis drama ini.
Berdasarkan orisinalitas atau keaslian penciptanya terdapat drama asli (karangan si pengarang sendiri) dan drama terjemahan (salinan dari bahasa lain atau pengarang yang lain).Ada juga bentuk pendramaan atau dramatisasinya dalam berbahasa Indonesia ragam umum drama berbahasa Indonesia ragam dialek.Kebanyakan drama Indonesia menggunakan ragam yaitu proses pelakonan suatu peristiwa atau cerita sebagai drama.Dari segi kuantitas waktu pementasannya kita mengenal drama pendek dan drama panjang.Drama-drama yang terkenal biasanya berupa drama panjang terdiri dari tiga atau lima babak,mengandung cerita yang panjang,karakter yang beragam, danjumlah seting yang beragam pula.Drama pendek hanya terdiri dari satu babak saja sehingga sering disebut drama satu babak.Drama jenis ini menuntut pemusatan pada suatu tema,jumlah kecil pemeran,dan peringkasan dalam gaya,latar,dan pengaluran.Berdasarkan sikap  terhadap naskah,kita mengenal drama tradisional dan drama modern.Pementasan drama modern bertolak dari naskah pementasan drama tradisional bersifat improvisasi.Bentukm drama tradisional mengikut adat kebiasaan turun-temurun dan tidak mengikuti kepribadian seniman pencipta tertentu.Kepribadian seniman tradisional muncul dalam mutu permainan,bukan dalam ciptaan perubahan bentuk drama.
Berdasarkan tujuan penulis,terdapat banyak jenis drama antara lain sosio drama,psikodrama dan drama satir.Sosio drama adalah jenis drama yang bertujuan memberiakan informasi kepada masyarakat tentang berbagai masalah sosial politik.Psikodrama adalah jenis drama yang bertujuan sebagai metode penyembuhan penyakit jiwa.Drama satir adalah jenis drama yang bertujuan memberikan sindiran umumnya bersifat komedi.
Berdasarkan aliran seni terdapat drama absurd yaitu drama yang sengaja mengabaikan mengabaikan konversi mengenai alur,penokohan,tema,dan sebagainya.
    Banyaknya karya-karya yang dihadirkan pada masa-masa sekarang telah melahirkan tokoh-tokoh yang mengkaji karya-karya sastra yang diciptakan khususnya drama.Mereka ingin mengkaji dan mengetahui makna yang terkandung di dalam karya tersebut.Karena di dalam karya sastra tersebut diantaranya drama mendeskripsikan tentang berbagai segi aspek kehidupan manusia.
    Dapat dikatakan bahwa drama adalah salah satu jenis karya sastra yang dilakoni oleh dua orang atau lebih yang dipentaskan di atas panggung.Sebuah drama terdiri dari beberapa unsur internal pembangunnya. Unsurunsur tersebut adalah penokohan, latar, alur, tema dan amanat.
a. Penokohan
Penokohan adalah pelukisan gambaran yang jelas tentang sesorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita (Jones dalam Burhan Nurgiyantoro, 2002:165).
Penokohan atau tokoh juga dijelaskan oleh Dick Hartoko & Rahmanto sebagai pencitraan yang disusun dengan memperpadukan berbagai faktor, yakni apa yang difokalisasinya, bagaimana ia memfokalisasi, oleh siapa dan bagaimana ia sendiri difokalisasi, kelakuannya sebagai pelaku dalam deretan peristiwa, ruang dan waktu (suasana) serta pertentangan tematis di dalam karya itu yang secara tidak langsung merupakan bingkai acuan bagi tokoh (Dick Hartoko&Rahmanto,
1986:144).
Tokoh-tokoh cerita dalam sebuah cerita fiksi dapat dibedakan ke dalam beberapa jenis penamaan berdasarkan dari sudut mana penamaan itu dilakukan.
Mochtar Lubis (1981:17) berpendapat bahwa cara–cara dalam mengamati tokoh dan melakukan penokohan sebagai berikut.
1. “Phisical description” (melukiskan bentuk lahir pelaku).
2. “Potrayal of thought stream or of conscious thought” (melukiskan jalan pikiran pelaku-pelaku atau apa yang melintas dalam pikirannya. Dengan ini pembaca dapat mengetahui bagaimana watak pelaku itu).
3. “Reaction to event” (bagaimana reaksi pelaku itu terhadap kejadian).
4. “Direct author analysis” (pengarang dengan langsung menganalisis watak pelaku).
5. “Discussion of environment” (melukiskan keadaan sekitar pelaku.
Misalnya melukiskan keadaan kamar pelaku, pembaca akan mendapat kesan apakah pelaku itu jorok, bersih, rajin atau malas).
6. “Reaction of other about character” (bagaimana pandangan pelaku-pelaku lain terhadap pelaku utama).
7. “Conversation of other about character” (pelaku-pelaku lainnya dalam suatu cerita memperbincangkan keadaan pelaku terutama. Dengan tidak langsung pembaca dapat kesan tentang segala sesuatu mengenai pelaku terutama ini).
Sudiro Satoto berpendapat bahwa analisis penokohan dapat ditinjau dari beberapa dimensi yaitu, fisiologis, sosiologis dan psikologis. Dimensi fisioligis, yaitu ciri-ciri lahir misalnya usia (tingkat kedewasaan), jenis kelamin, keadaan tubuh, ciri-ciri muka, ciri-ciri badani, dan lain-lain.
Dimensi sosiologis, yaitu ciri-ciri kehidupan masyarakat misalnya status sosial, pekerjaan, jabatan, peranannya dalam masyarakat, tingkat pendidikan, kehidupan pribadi, pandangan hidup, agama, kepercayaan, ideologi, aktifitas sosial, organisasi, hobi, bangsa, suku, keturunan, dan
lain-lain.
Dimensi psikologis, yaitu latar belakang kejiwaan tokoh misalnya mentalitas, moral, temperamen, keinginan dan perasaan pribadi, sikap dan perilaku, tingkat kecerdasan, keahlian khusus dalam bidang tertentu (Sudiro Satoto, 1992:44-5).
Secara umum penokohan adalah gambaran tokoh berupa karakter, pemikiran, citra fisik, dan ciri-ciri lain yang terdapat dalam sebuah cerita fiksi.
b. Latar
Latar atau setting adalah segala keterangan, petunjuk, pengacuan yang berkaitan dengan waktu, ruang, dan suasana terjadinya peristiwa dalam suatu karya sastra (Panuti Sudjiman, 1988:44).
Unsur latar dibedakan dalam beberapa indikator. Abrams (dalam Zainudin Fananie, 2002:99) berpendapat, latar dibedakan menurut tiga indikator yang meliputi; pertama, general locale (tempat secara umum); kedua historical time (waktu historis); ketiga social circumstances (lingkungan sosial).
Senada dengan Abrams, Burhan Nurgiyantoro (2002:227) juga membedakan latar menjadi tiga kategori :
a. Latar tempat, yaitu menyaran pada lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi.
b. Latar waktu, yaitu berhubungan dengan masalah kapan terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi.
c. Latar sosial, yaitu menyaran pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku kehidupan sosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi.
Fungsi setting/latar menurut Rene Wellek dan Austin Warren adalah sebagai berikut
1. Latar adalah lingkungan, dan lingkungan terutama interior rumah dapat dianggap berfungsi sebagai metonimia, atau metafora, ekspresi dari tokohnya. Rumah seseorang adalah perhiasan bagi dirinya sendiri. Kalau kita menggambarkan rumahnya berarti kita menggambarkan
sang tokoh. Latar memberikan informasi situasi (ruang dan tempat) sebagaimana adanya dan berfungsi sebagai proyeksi keadaan batin para tokoh, latar menjadi metafor dari keadaan emosional dan spiritual tokoh.
2. Latar yang bertujuan menciptakan dan mempertahankan mood: alur dan penokohan didominasi oleh nada dan kesan tertentu disebut latar romantik, misalnya pada karya romantik. Deskripsi naturalistik lebih bersifat dokumentasi, dengan tujuan menciptakan ilusi.
3. Dalam drama, latar digambarkan secara verbal (seperti dalam drama Shakespeare)atau ditunjukkan oleh petunjuk pementasan yang menyangkut dekorasi dan peralatan panggung disebut latar realistis.
4. Latar juga dapat berfungsi sebagai penentu pokok: lingkungan dianggap sebagai penyebab fisik dan sosial, suatu kekuatan yang tidak dapat dikontrol oleh individu (Wellek, Rene dan Warren, Austin, 1989:290-1).
Latar tidak hanya menunjukkan dimana dan kapan cerita itu terjadi. Lebih dari itu, latar juga harus sesuai dengan situasi sosial dan diagesis atau logika ceritanya. Hal ini diungkapkan oleh Zainuddin Fananie dalam bukunya Telaah Sastra. Zainuddin Fananie, (2002:99) berpendapat bahwa dalam telaah setting/latar sebuah karya sastra, bukan berarti bahwa persoalan yang dilihat hanya sekedar tempat terjadinya peristiwa, saat terjadinya peristiwa, dan situasi sosialnya, melainkan juga dari konteks diagesis-nya kaitannya dengan perilaku masyarakat dan watak para tokohnya sesuai dengan situasi pada saat karya tersebut diciptakan. Karena itu, dari telaah yang dilakukan harus diketahui sejauh mana kewajaran, logika peristiwa, perkembangan karakter pelaku sesuai dengan pandangan masyarakat yang berlaku saat itu.
c. Alur
Alur sering juga disebut plot. Dalam pengertiannya yang paling umum, plot atau alur sering diartikan sebagai keseluruhan rangkaian peristiwa yang terdapat dalam cerita (Sundari dalam Zainuddin Fananie, 2002:93). Luxemburg berpendapat bahwa alur atau plot adalah konstruksi yang dibuat pembaca mengenai sebuah deretan peristiwa yang secara logis dan kronologis saling berkaitan dan diakibatkan atau dialami oleh para pelaku (Luxemburg dalam Zainuddin Fananie, 2002:93).
Teknik pengaluran menurut Sudiro Satoto (1992: 27-28) ada dua yaitu, dengan jalan progresif (alur maju) yaitu dari tahap awal, tahap tengah atau puncak, dan tahap akhir terjadinya peristiwa, yang kedua dengan jalan regresif (alur mundur) yaitu bertolak dari akhir cerita, menuju tahap tengah atu puncak, dan berakhir pada tahap awal. Tahap progresif bersifat linear, sedangkan teknik regresif bersifat non linear.
Ada juga teknik pengaluran yang disebut sorot balik (flashback), yaitu urutan tahapannya dibalik seperti halnya regresif. Teknik flashback jelas mengubah teknik pengaluran dari progresif ke regresif. “Teknik tarik balik (back tracking), jenis pengalurannya tetap progresif, hanya pada tahap-tahap tertentu, peristiwanya ditarik ke belakang, jadi yang ditarik ke belakang hanya peristiwanya (mengenang peristiwa yang lalu), tetapi alurnya tetap maju atau progresif” (Sudiro Satoto, 1992:28-29).
Burhan Nurgiyantoro berpendapat unsur yang amat esensial dalam pengembangan sebuah alur adalah peristiwa, konflik, dan klimaks (Burhan Nurgiyantoro, 2002:16).
a. Peristiwa
Peristiwa dapat diartikan sebagai peralihan dari suatu keadaan ke keadaan yang lain (Luxemburg, 1992:160). Peristiwa dapat dibedakan dalam tiga jenis, yaitu: peristiwa fungsional, peristiwa kaitan, peristiwa acuan. Peristiwa fungsional adalah peristiwa-peristiwa yang menentukan dan atau mempengaruhi perkembangan alur. Peristiwa kaitan adalah peristiwa-peristiwa yang berfungsi mengaitkan peristiwa-peristiwa penting dalam mengurutkan penyajian cerita.
Peristiwa acuan adalah peristiwa yang tidak secara langsung berpengaruh dan atau berhubungan dengan perkembangan alur, melainkan mengacu pada unsur-unsur lain (Burhan Nurgiyantoro, 2002:117).
b. Konflik
Kemampuan pengarang untuk memilih dan membangun konflik melalui berbagai peristiwa (baik perbuatan maupun kejadian) akan sangat menentukan kadar kemenarikan, kadar suspense, cerita yang dihasilkan (Burhan Nurgiyantoro, 2002:122).
“Konflik menyaran pada pengertian sesuatu yang bersifat tidak menyenangkan yang terjadi dan atau dialami oleh tokoh(-tokoh) cerita, yang jika tokoh(-tokoh) itu mempunyai kebebasan untuk memilih, ia (mereka) tidak akan memilih peristiwa itu menimpa dirinya” (Meredith&Fitzgerald dalam BurhanNurgiyantoro, 2002:122).
c. Klimaks
Klimaks menurut Stanton adalah saat konflik telah mencapai tingkat intensitas tertinggi, dan saat (hal) itu merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari kejadiannya. Secara ekstrem barangkali, boleh dikatakan bahwa dalam klimaks “nasib” (dalam pengertian luas) tokoh utama cerita akan ditentukan (Stanton dalam Burhan Nurgiyantoro, 2002:127).
Dalam usaha pengembangan alur, pengarang juga memiliki kebebasan kreativitas. Namun, dalam karya fiksi yang tergolong inkonvensional, kebebasan itu bukannya tanpa aturan. Ada semacam aturan, ketentuan, atau kaidah pengembangan alur yang perlu dipertimbangkan. Burhan Nurgiyantoro (2002: 130-138) berpendapat bahwa kaidah pengaluran (the law of the plot) adalah sebagai berikut.
a. Plausibilitas (plausibility) menyaran pada pengertian suatu hal yang dapat dipercaya sesuai dengan logika cerita.
b. Keingintahuan (suspence), mampu membangkitkan rasa ingin tahu dihati pembaca. Pembayangan (foreshadowing) adalah salah satu cara untuk membangkitkan suspense sebuah cerita. Pembayangan, dapat dipandang sebagai sebuah pertanda akan terjadinya peristiwa atau konflik yang lebih besar atau lebih serius.
c. Kejutan (surprise), merupakan cerita yang mampu memberikan kejutan, sesuatu yang bersifat mengejutkan .
d. Kesatupaduan (unity) menyaran pada pengertian bahwa berbagai unsur yang ditampilkan, khususnya peristiwa-peristiwa fungsional, kaitan, dan acuan, yang mengandung konflik, atau seluruh pengalaman kehidupan yang hendak dikomunikasikan, memilki keterkaitan satu dengan yang lain.
Burhan Nurgiyantoro (2002:150) juga berpendapat, pembedaan alur berdasarkan kriteria urutan waktu secara teoritis dibagi kedalam tiga kategori yaitu:
a. Alur kronologis, disebut sebagai alur lurus, maju, progresif. Kronologis jika peristiwa-peristiwa yang dikisahkan bersifat kronologis, peristiwa(-peristiwa) yang pertama diikuti oleh (atau:menyebabkan terjadinya) peristiwa-peristiwa yang kemudian.
b. Alur tak kronologis, disebut sebagai alur sorot balik, mundur, flash back. Cerita dimulai mungkin dari tahap tengah atau bahkan tahap akhir, baru kemudian tahap awal cerita dikisahkan.
c. Alur campuran, campuran dari keduanya.
d. Tema dan Amanat
Zainuddin Fananie berpendapat bahwa tema adalah ide, gagasan, pandangan hidup pengarang yang melatarbelakangi ciptaan karya sastra (Zainuddin Fananie, 2002:84). Pendapat lain mengatakan, bahwa tema adalah gagasan dasar umum yang menopang sebuah karya sastra dan yang terkandung di dalam teks sebagai struktur semantis dan yang menyangkut persamaan-persamaan dan perbedaan-perbedaan (Dick Hartoko&Rahmanto, 1986:142).
Senada dengan dua pendapat di atas, Burhan Nurgiyantoro juga mengatakan bahwa tema adalah dasar cerita, gagasan dasar umum, sebuah karya novel/roman. Gagasan dasar umum inilah yang tentunya telah ditentukan sebelumnya oleh pengarang yang dipergunakan untuk mengembangkan cerita.
Dengan kata lain, cerita tentunya akan setia mengikuti gagasan dasar umum yang telah ditetapkan sebelumnya sehingga berbagai peristiwa-konflik dan pemilihan berbagai unsur intrinsik yang lain dapat mencerminkan gagasan dasar umum (baca:tema) tersebut (Burhan Nurgiyantoro, 2002:70).
Amanat adalah “gagasan yang mendasari karya sastra, pesan yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca atau pendengar. Di dalam karya sastra modern, amanat ini biasanya tersirat dan di dalam karya sastra lama pada umumnya tersurat”(Panuti Sudjiman, 1984:5).
Tema dan amanat sangat erat kaitannya. Amanat merupakan pemecahan persoalan yang terkandung dalam tema. Amanat juga merupakan pesan yang ingin disampaikan pengarang dalam rangka menyelesaikan persoalan yang ada.
2.Pendekatan Struktural
    Pendekatan adalah cara seseorang mendekati sesuatu untuk mengetahui seluk-beluk sesuatu yang ingin diketahuinya.Dalam karya sastra terdapat banyak jenis pendekatan yang digunakan untuk menganalisis karya sastra tersebut.Dengan menggunakan pendekatan dalam menganalisis karya sastra akan memudahkan kita untuk mengetahui makna yangb terkandung di dalam karya sastraTanah yang Hilang” ini, maka pendekatan yang digunakan adalah pendekatan strukturalisme genetik. Sesuai dengan teori di atas, pendekatan ini merupakan follow up (lanjutan) dari pendekatan struktural. Dalam struktuturalisme konsep fungsi memegang peranan penting.Artinya unsur-unsur sebagai ciri khas teori tersebut dapat berperan secara maksimal semata-mata dengan adanya fungsi yaitu dalam rangka menunjukkan hubungan antar unsur-unsur yang terlibat.Oleh karena itu dikatakan bahwa struktur lebih dari sekedar unsur-unsur dan totalitasnya,karya sastra lebih dari sekedar pemahaman bahasa sebagai medium,karya sastra lebih dari sekedar penjumlahan bentuk dan isinya.Antar hubungan dengan demikian merupakan kualitas energetis unsur.Unsur-unsur memiliki fungsi yang berbeda-beda,dominasinya tergantung pada jenis,konvensi,dan tradisi sastra.Unsur-unsur pada gilirannya memiliki kapasitas untuk melakukan reorganisasi dan regulasi diri,membentuk dan membina hubungan antar unsur.Unsur tidak memiliki arti dalam dirinya sendiri,unsur dapat dipahami sema-mata dalam proses antarhubungannya.Makna total dalam setia entitas dapat dipahami hanya dengan integritasnya terhadap totalitasnya.Dunia kehidupan merupakan totalitas fakta sosial,bukan totalitas benda.Antarhubungan mengandaikan pergeseran nilai-nilai substansial ke arah struktural,nilai dengan bagian kualitas ke arah kualitas totalitas.
    Adapun dengan menganalisis dengan menggunakan pendekatan struktural maka hal yang diuraikan adalah struktur dari drama yaitu diantaranya alur,tokoh,tema,amanat,dan gaya bahasa.Dengan menguraikan unsur intrinsiknya maka kita dapat menafsirkan isi drama dengan baik.

BAB III
METODE PENELITIAN
1.Pendekatan
Pendekatan adalah cara seseorang mendekati sesuatu untuk mengetahui seluk-beluk sesuatu yang ingin diketahuinya.Dalam karya sastra terdapat banyak jenis pendekatan yang digunakan untuk menganalisis karya sastra tersebut.Dengan menggunakan pendekatan dalam menganalisis karya sastra akan memudahkan kita untuk mengetahui makna yangb terkandung di dalam karya sastraTanah yang Hilang” ini, maka pendekatan yang digunakan adalah pendekatan strukturalisme genetik. Sesuai dengan teori di atas, pendekatan ini merupakan follow up (lanjutan) dari pendekatan struktural. Dalam struktuturalisme konsep fungsi memegang peranan penting.Artinya unsur-unsur sebagai ciri khas teori tersebut dapat berperan secara maksimal semata-mata dengan adanya fungsi yaitu dalam rangka menunjukkan hubungan antar unsur-unsur yang terlibat.Oleh karena itu dikatakan bahwa struktur lebih dari sekedar unsur-unsur dan totalitasnya,karya sastra lebih dari sekedar pemahaman bahasa sebagai medium,karya sastra lebih dari sekedar penjumlahan bentuk dan isinya.Antar hubungan dengan demikian merupakan kualitas energetis unsur.Unsur-unsur memiliki fungsi yang berbeda-beda,dominasinya tergantung pada jenis,konvensi,dan tradisi sastra.Unsur-unsur pada gilirannya memiliki kapasitas untuk melakukan reorganisasi dan regulasi diri,membentuk dan membina hubungan antar unsur.Unsur tidak memiliki arti dalam dirinya sendiri,unsur dapat dipahami sema-mata dalam proses antarhubungannya.Makna total dalam setia entitas dapat dipahami hanya dengan integritasnya terhadap totalitasnya.Dunia kehidupan merupakan totalitas fakta sosial,bukan totalitas benda.Antarhubungan mengandaikan pergeseran nilai-nilai substansial ke arah struktural,nilai dengan bagian kualitas ke arah kualitas totalitas.
    Adapun dengan menganalisis dengan menggunakan pendekatan struktural maka hal yang diuraikan adalah struktur dari drama yaitu diantaranya alur,tokoh,tema,amanat,dan gaya bahasa.Dengan menguraikan unsur intrinsiknya maka kita dapat menafsirkan isi drama dengan baik.
   
2. Metode
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang bersifat deskriptif. Metode kualitatif menekankan kualitas sesuai dengan pemahaman deskriptif dan alamiah itu sendiri. Dalam penelitian deskritif, data yang dikumpulkan bukanlah angka-angka, melainkan dapat berupa kata-kata atau gambaran tertentu. Deskriptif dalam hal ini merupakan gambaran ciri-ciri data secara akurat sesuai dengan sifat alamiah itu sendiri. Secara deskriptif peneliti dapat memerikan ciri-ciri, sifat-sifat, serta gambaran data melalui pemilahan data yang dilakukan pada tahap pemilahan data setelah data terkumpul (Fatimah Djajasudarma, 1993:15-16).
Bogdan dan Taylor ( dalam Moleong, Lexy, 2002:3) berpendapat bahwa metode kualitataif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Bersifat deskriptif karena dalam penelitian ini data yang terkumpul berupa satuan semantis seperti kata-kata, frasa, klausa, kalimat, dan paragraf, juga gambar, dan hasilnya berupa kutipan-kutipan dari kumpulan data tersebut yang berisi tindakan, pikiran, pandangan hidup, konsep, ide, gagasan yang disampaikan pengarang melalui karyanya.
3. Objek Penelitian
Objek penelitian ini adalah aspek–aspek strukturalstruktur-struktur yang berada di dalamnya. Objek penelitian ini dapat berupa kata dan kalimat yang berupa ungkapan dan dialog tokoh-tokoh yang terdapat dalam drama Ningrat
4. Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini adalah drama “Tanag yang Hilang” karya Rifton Suba.
5. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data penelitian ini adalah teknik simak dan catat. Objek penelitian ini adalah roman, maka penyimakan dilakukan dengan jalan membaca dan mempelajari objek penelitian, kemudian diadakan inventaris data sebagai bahan yang akan diolah dalam penelitian ini.
6. Teknik Pengolahan Data
1. Tahap deskripsi: seluruh data yang diperoleh dihubungkan dengan persoalan setelah itu dilakukan tahap pendeskripsian .
2. Tahap klasifikasi: data-data yang telah dideskripsikan kemudian dikelompokkan menurut      kelompoknya masing-masing sesuai dengan permasalahan yang ada .
3. Tahap analisis: data-data yang telah diklasifikasikan menurut kelompoknya masing-masing dianalisis menurut struktur kemudian dianalisis lagi dengan pendekatan strukturalisme genetik.
4. Tahap interpretasi data: upaya penafsiran dan pemahaman terhadap hasil analisis data.
5. Tahap evaluasi: data-data yang sudah dianalisis dan diinterpretasikan belum ditarik kesimpulan begitu saja. Data-data harus diteliti dan dievaluasi kembali agar dapat diperoleh penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan.
7. Teknik Penarikan Simpulan
Penelitian ini akan disimpulkan dengan teknik induktif yaitu penarikan kesimpulan berdasarkan dari pengetahuan yang bersifat khusus, untuk menentukan kesimpulan yang bersifat umum.

BAB VI
PEMBAHASAN
A.Alur
    Menurut Hamzah (1985:96) plot diartikan sebagai bagan atau kerangka kejadian dimana para peran berbuat.Plot adalah suatu keseluruhan peristiwa dalam skenario,serangkaian hubungan sebab akibat yang bergerak dari awal hingga akhir.Halini sejalan dengan pandangan Stanton (Nurgiantoro,1995:133) bahwa alur adalah cerita berisikan urutan kejadian,namun setiap kejadian itu hanya dihubungkan dengan sebab akibat.Peristiwa yang satu disebabkan oleh peristiwa yang lainnya.Sukasworo (1987:62) menyatakan bahwa plot adalah konflik-konflik antar tokoh yang satu dengan yang lainnya akan menimbulkan berbagai peristiwa dan kejadian,peristiwa-peritiwa itu dijalin sedemikian rupa sehingga terbentuk suatu cerita.
    Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa alur itu merupakan perpaduan unsur-unsur yang membangun cerita sehingga merupakan kerangka utama cerita.Dalam pengertian ini,alur merupakan pola tindak-tanduk yang berusaha memecahkan konflik yang terdapat di dalamnya.
    Dengan demikian rangkaian peristiwa-peristiwa cerita disusun secara logis dan kausalitas dinamakan alur atau plot.Setiap peristiwa yang berlaku atau terjadi selalu mempunyai hubungan sebab akibat.Suatu peristiwa akan terjadi jika disebabkan oleh sebuah hal atau hal yang menjadi alasan sehingga peristiwa itu terjadi.Disamping itu setiap peristiwa yang berlaku akan menimbulkan akibat tertentu yang mungkin saja berupa munculnya peristiwa-peristiwa lain.
    Menurut Ibrahim (2001:37 )alur cerita dapatdibedakan menjadi tiga bagian yaitu alur maju,sorot balik,dan alur mundur.Alur maju yaitu pengarang menceritakan masa sekarang lalu masa yang akan datang hingga cerita itu berakhir.Tolehan masa lalu disebut sorot balik atau alur mundur yaitu pengarang menceritakan masa sekarang menuju peristiwa masa lalu.
    Dalam drama “Tanah yang Hilang” karya Rifton Suba jenis alur yang digunakan yaitu alur maju.Hal ini dikarenakan pada penyajian cerita,penulis menyajikan dramanya terus bergerak ke akhir cerita tanpa menoleh ke peristiwa yang lalu.Dalam hal ini pengarang menceritakan masa sekarang lalu ku masa depan hingga ceria itu berakhir.Hal tersebut terlihat ketika cerita yang dimulai dengan seorang suami istri di sebuah ruang tamu sedang memperbincangkan masalah sawah yang akan mereka garap yang nantinya akan berlanjut dengan tokoh ayah yang membaca surat yang berasal dari kepala desauntuk mengikuti rapat.Pada alur cerita selanjutnya akan berjalan terus ke arah masa depan yang ditandai dengan munculnya konflik antara tokoh ayah,tokoh masyarakat lainnya, dan tokoh kepala desa.Dan selanjutnya diakhiri dengan peristiwa yang diakibatkan oleh konflik tersebut yaitu meninggalnya tokoh kepala desa.
    Adapun alur sekuen dari teks drama ini yaitu:
1.Perbincangan antara ayah dan ibu.
2.Dibacanya oleh ayah surat yang diserahkan oleh ibu yang berasal dari kepala desa.
3.Pertemuan antara Manto dan ayah.
4.Pertemuan antara ayah ,kepala desa,dan pengusaha.
5.Rencana kepala desa dan pengusaha terhadap ayah.
6.Pengakuan ibu kepada ayah karena telah termakan bujukan kepala desa.
7.Pertemuan antara ayah,warga,dan kepala desa.
8.Terbunuhnya kepala desa oleh swarganya sendiri.

B.Tokoh dan Penokohan
    Menurut Sudjiman (Zulfathnur,1967/1997:29) tokoh adalah individu rekaan yang berwujud manusia atau binatang yang mengalami lakuan atau peristiwa dalam cerita.Manusia yang menjadi tokoh dalam cerita fiksi dapat berkembang perwatakannya baik segi fisik maupun segi mentalnya.
    Dalam hal penokohan,di dalamnya termasuk hal-hal yang berkaitan dengan penamaan,pemeranan,keadaan fisik tokoh,keadaan sosial tokoh,serta karakter tokoh.Hal-hal yang termasuk dalam hal-hal penokohan ini saling berhubungan dengan upaya membangun masalah-masalah atau konflik-konflik  kemanusiaan yang merupakan persyaratan utama drama.Bahkan di dalam drama,unsur penokohan merupakan aspek penting.Selalu melalui aspek ini,aspek-aspek lain di dalam terkesan lebih tegas dan jelas pengungkapannya dibandingkan dengan fiksi
    Seperti halnya rekaan,dalam drama pun terdapat tokoh baru pemegang peran.Pada umumnya tokoh drama berupa orang,jika berupa binatang,tumbuhan,atau bahkan benda mati tetapi sikap dan tingkah lakunya tetap pula menggambarkan kehidupan manusia.
    Dalam drama ini terdapat beberapa tokoh yang melakoni cerita  tersebut diantaranya ayah,ibu,Manto,kepala desa,pengusaha,istri kepala desa,dan warga.Adapun gambaran karakter dari masing-masing tokoh ini yaitu:
1.Ayah
    Ayah adalah merupakan tokoh utama dalam cerita drama ini karena tokoh paling banyak mengadakan hubungan atau kontak dengan tokoh lain yang turut melakoni drama ini.Ayah adalah sosok seorang tokoh yang berkarakter baik.Ia tidak mau orang lain menanggung penderitaan akibat perbuatan yang telah dilakukannya.Hal ini terlihat ketika ayah berbincang-bincang dengan istrinya mengenai kekurangan biaya yang akan dihadapinya untuk dapat mengolah sawah yang mereka miliki.Padahal jika ia mau tanpa susah-susah berpikir untuk mendapatkan uang ,ia bisa saja meminjam uang kepada tengkulak seperti yang disarankan oleh istrinya tetapi ia tidak mau melakukan hal itu.Karena dengan melakukan hal itu,ia akan terjerumus ke jurang yang bukan saja menjerumuskan dirinya tetapi juga keluarganya.Jurang yang akan membuat mereka menderita secara berkepanjangan karena terlilit oleh utang yang bunganya sangat tinggi yang sulit untuk dillunasi sehingga mereka akan sulit terlepas dari utang tersebut.
Selain itu ayah adalah sosok yang peduli dengan penderitaan dengan orang lain.Ia tidak mau merasakan kesenangan sendirinya jika orang di sekitarnya mengalami penderitaan.Hal ini terlihat ketika kepala desa dan pengusaha membujuk ayah untuk menjual sawahnya dan membujuk warga agar mereka menjual sawahnya kepada pengusaha.Tetapi ayah tidak mau melakukan hal itu walaupun ia mempunyai modal untuk mengganti usahanya selain bertani.Karena dengan melakukan hal itu maka warga akan mengikuti yang akan dilakukan oleh ayah yaitu menjual sawah mereka.Tapi yang dipikirkan oleh ayah yaitu bagaimana cara mencukupi kebutuhan hidup mereka nantinya jika uang hasil penjualan sawah telah habis sedangkan mereka tidak mempunyai lapangan pekerjaan yang lain selain bekerja di sawah.
    Tokoh ayah adalah orang yang pandai,ia mampu berpikir jauh tentang hal yang akan terjadi jika sawah yang dimilikinya dan warga lainnya jika sawah mereka dijual.Ia tidak mudah termakan oleh bujuk rayu kepala desa walaupun itu berupa iming-iming lapangan pekerjaan yang menjanjikan dan uang yang menggiurkan.Ia adalah orang yang sangat hati-hati dalam mengambil keputusan.Setiap keputusan yang diambilnya sudah dipikir matang-matang.Dengan pikirannya yang matang tersebut,ia mampu mengontrol pikirannya agar mampu bersabar atas perlakuan kepala desa.Padahal dengan kemampuannya untuk merangkul warga,ia bisa saja mengajak warga untuk bertindak kasar kepadanya.Tokoh ayah mempunyai pendirian yang sangat kuat.
    Ayah juga mempunyai jiwa patriot karena ia berani mempertaruhkan nyawanya demi membela sesuatu yang dianggapnya benar.
2.Ibu
    Ibu adalah sosok tokoh yang setia mendampingi suaminya.Ia selalu memberikan pandangannya berupa masukan-masukan yang bermanfaat mengenai apa yang akan dilakukan oleh suaminya.Ia bahkan juga mempunyai sifat yang sabar karena ketika suaminya mengalami masalah ia selalu setia mendampinginya yaitu ketika terkena jeratan tengkulak dua tahun yang lalu ia tetap member semangat kepada suaminya.Ia tidak mau suaminya menghadapi masalahnya sendiri.Namun,akibat perdulinya kepada suaminya,ia sempat mengikuti bujukan kepala desa dengan memberikan surat tanah tersebut dan menerima uang yang diberikan agar suaminya tidak mengalami masalah tersebut secara berkepanjangan.
3.Manto
    Manto adalah tokoh yang hampir sama dengan tokoh ayah.Ia mempunyai pendirian yang sangat kuat dan sudah mampu berpikir jauh mengenai hal yang akan terjadi jika sawah yang dimilikinya dijual.Ia tidak mudah terpengaruh oleh iming-iming uang yang diberikan olek kepala desa.Ia termasuk orang yang setia karena walaupun telah dibujuk oleh kepala desa ia tetap berpihak kepada ayah.Hanya saja,Manto adalah orang yang tidak sabar,hal ini terlihat ketika ia bersama warga yang lainnya mengeroyok kepala desa sampai mati.
4.Kepala Desa
    Kepala desa adalah tokoh yang tidak baik karena serakah karena demim kekayaan dan kesenangan hidupnya,ia rela mengorkan kehidupan warganya,yang seharusnya ia melindungi warganya ia malah menjerumuskan istrinya.Bahkan nasihat istrinya ia sudah tidak mau mendengar lagi karena ia sudah menganggap dirinya benar.Ia menghalalkan segala cara untuk meraih keuntungan tersebut,bahkan untuk membujuk warga ia menggunakan cara yang tidak halal.
5.Pengusaha
    Pengusaha adalah tokoh yang sama serakahnya dengan kepala desa.Ia menggunakan segala cara untuk dapat memperluas bisnisnya.Ia tidak perduli dengan penderitaan yang akan dialami oleh orang lain jika bisnisnya itu dijalankan.Hanya saja,ada satu kebaikan yang dimiliki oleh pengusaha yaitu ia tidak mau untuk memperoleh keinginannya harus ada pertumpahan darah.Ia menginginkan
Cara yang halus,bukan dengan kekerasan
6.Istri Kepala Desa
    Tokoh ini adalah termaksud istri yang setia karena ia tidak mau meninggalkan suaminya di dalam jalan yang salah.Ia masih mau menasihati suaminya kalau perbuatan yang telah dilakukannya dalah salah.Namun karena terlalu setia sehingga ia menurut saja semua perkataaqn suaminya walaupun ia tahu perbuatan suaminya adalah salah.Ia tidak mempunyai pendirian yang kuat karena ia tidak mampu mempertahankan sesuatu yang dianggapnya benar.

C.Setting
1.Latar Tempat
    Dalam drama ini tidak digambarkan secara jelas tempat terjadinya kejadian dalam drama ini.Hanya saja dari penggambaran mengenai adanya tokoh kepala desa dan sawah sebagai suatu hal yang dipermasalahkan maka yang menjadi latar tempat dari drama ini adalah di suatu desa.Dan tempat yang sering dijadikan tempat pelakonan cerita tersebut adalah di rumah ayah dan di rumah kepala desa yaitu tempat terjadinya pembunuhan kepala desa oleh warganya sendiri.
2.Latar Waktu
    Pada drama ini juga tidak digambarkan secara pasti latar waktu yang disajikan.Tetapi mengenai kejadian-kejadian yang terjadi yaitu ketika ibu menyiapkan kopi untuk ayaqh,hal ini dapat menjadi gambaran bahwa kejadian itu terjadi ketika pagi dan malam hari.Selain itu pula ada tokoh Manto yang memberikan salam dengan sebutan selamat siang,hal ini berarti terjadi pada siang hari.
3.Latar Suasana
    Dari naskah drama ini dapat terlihat bahwa dari awal cerita sampai akhir cerita suasana yang dihadirkan oloeh pengarang adalah suasana yang tegang karena pada awal cerita banyak adegan-adegan perdebatan yang terjadi sampai pada akhir cerita hingga mengakibatkan pembunuhan yang dilakukan oleh warga.
4.Tema
    Adapun yang menjadi tema dari drama ini adalah keserakahan karena akibat keserakahan yang dari diri kepala desa maka akhirnya ia harus membayarnya dengan nyawanya sendiri kepada warga yang dianggapnya mampu untuk dikelabui.

















Tidak ada komentar:

Poskan Komentar